Menelisik Keindahan Tiap Sudut Bromo

Sebuah tangan tiba-tiba saja menepuk punggungku. “Bangun, ayo bangun. Mau lihat sunrise di Bromo tidak? Kalau mau, cepat  bangun dan rapi-rapi.” Itulah ucapan Mas Pras, orang yang rumahnya saya gunakan untuk menginap dan juga sekaligus pemilik Prass Jeep Trans yang melayani antar jemput Bromo dan Semeru, sembari tetap memukul punggungku dan meminta saya untuk bangun. Mendapat tepukan yang cukup keras itu, saya pun segera bangun dari kelelapan saya.

Saat melihat jam di dinding, ternyata waktu masih menunjukkan pukul 01:30 WIB. “Pagi sekali. Ini bangun pagi paling pagi dalam sejarah saya traveling.” ucapku dalam hati. Helena, wanita yang akan menemani saya untuk melihat cantiknya Bromo, ternyata sudah lebih dahulu bangun. Untuk urusan bangun pagi, dia memang lebih jago dari pada saya.

30 menit berikutnya kami gunakan untuk menyiapkan semua perlengkapan yang kami perlukan mulai dari jaket tebal, sarung tangan, celana panjang, sepatu gunung dan tak lupa juga alat dokumentasi. Usai semua siap dan wajah juga sudah dibilas untuk menghilangkan kantuk yang ada pada diri kami, saya pun memanggil Mas Prass dan mengatakan padanya kalau kami sudah siap untuk berangkat menuju Bromo.

Ini dia penampakan Basecamp Mas Prass tempat saya menginap beserta Jeep merahnya

Mendengar kode dari kami, Jeep tua merah tahun 1970an miliknya yang ia letakkan di sebelah rumah pun segera dipanaskan. Namun sayang, perjalanan kami pagi ini tidak diantar olehnya. Ia sudah terlanjur memiliki janji untuk mengantar tamu yang lain. Alhasil, kami pun diantar oleh asistennya. Keceriaan dan antusiasme kami melihat Bromo tetaplah sama, meskipun bukan Mas Prass yang mengantarnya. Karena siapapun yang mengantar, Bromo akan tetap sama.

Penanjakan 1

Selama perjalanan menuju Bromo, saya dan Helena terlelap di bangku depan. Sang supir hanya ditemani oleh rokok kretek miliknya yang entah berapa batang sudah ia habiskan selama perjalanan. Rupanya air yang kami gunakan untuk membasuh wajah kami di rumah Mas Pras tadi tidak mampu membuat kami bertahan terlalu lama untuk membuka mata. Rasa kantuk menyerang kami lebih kuat dan akhirnya kami kalah dan harus tertidur. Kami hanya terbangun sekali ketika memasuki gerbang awal untuk membeli tiket, sisanya kami kembali tertidur selama perjalanan. Lagi pula pagi itu sangat gelap, belum ada pemandangan cantik yang bisa kami nikmati.

Setelah kurang lebih 2 jam, akhirnya kami tiba di pemberhentian akhir dimana kami melihat banya jeep serupa dengan warna yang bervariasi. “Ini penanjakan 1. Mas dan mbak nanti tinggal jalan saja ke tempat sunrise. Nanti saya tunggu di sini. Tolong ingat warna dan nomor platnya saja ya.” Ucap sang supir. Usai sang supir mengatakan hal itu, kami pun turun dan mulai berjalan kaki.

Sepanjang perjalanan menuju ke Penanjakan 1, titik dimana kami bisa memandang sang surya muncul dengan jelas, terdapat banyak toko yang menjual makanan serta souvenir. Kami pun mampir sebentar ke salah satu toko makanan, kami datang terlalu pagi. 2 mangkuk mie rebus menemani kami ditengah gelap dan dinginnya penanjakan 1 kala itu.

Pemburu Matahari Pagi

Pemandangan Menakjubkan dari Penanjakan 1

Pemandangan lain dari penanjakan 1. Sayang kabutnya sudah hilang

Saat sedang makan, terlihat juga beberapa orang yang menawarkan jasa sewa jaket kepada para pengunjung yang siap menuju penanjakan 1. Ya, terkadang jaket yang digunakan para pengunjung memang tidak terlalu tebal untuk menahan laju dingin yang menyerang badan. Untunglah ada mereka, sehingga pengunjung yang merasa kedinginan tidak perlu capek-capek untuk membeli jaket.

Semesta sepertinya benar-benar mendukung kami pagi itu. Usai makan, kami langsung berjalan sedikit ke Penanjakan 1. Di sana tersedia bangku yang berundak agar para pengunjung bisa dengan nyaman menikmati proses matahari terbit, tidak saling terhalangi. Beruntungnya, kami pergi saat bulan puasa sehingga penanjakan 1 tidak terlalu padat. Semua kebagian tempat duduk (termasuk kami) dan hanya mereka yang “egois” saja yang maunya berdiri paling depan dan sedikit menghalangi kami yang duduk.

Setengah jam setelah kami duduk, langit perlahan berubah warna, dari hitam menjadi ungu. Tak lama kemudian, warna oranye menyusul muncul menemani warna ungu yang sudah nampak lebih dahulu. Dan akhirnya yang ditunggu datang, sang mentari, yang terbangun dari lelap tidurnya. Sontak semua orang berdecak kagum dan dengan kamera masing-masing, mereka mengabadikan momen indah tersebut.

Amazing Bromo

Kenapa Spion ada 2? Karena kalau cuma 1 namanya kesepion. (Joke: uus)

Sudut lain dari penanjakan 1

Momen matahari terbit hanya sebentar, penantiannya yang lebih lama. Usai matahari muncul sempurna dan mengubah gelap menjadi terang, perlahan-lahan para pengunjung mulai menyebar. Ada yang langsung turun untuk menuju Pasir Berbisik dan ingin melihat Gunung Batok, ada juga yang mencari spot bagus untuk mengabadikan diri dengan latar Gunung Bromo dan Gunung Semeru.

Lalu apa yang kami lakukan? Ya mencari spot foto bagus juga dong. Sayang kan sudah datang ke Bromo (dan cukup sepi) tapi tidak mengabadikannya.

Bukit Kingkong

Tak lama setelah berfoto di Penanjakan 1 (sekitar 2 jam), saya dan Helena pun menghampiri supir yang ternyata sudah menunggu kami. Jeep kami menjadi jeep terakhir yang turun dari Penanjakan 1 kala itu. “Mau mampir ke Bukit Kingkong? Dekat saja kok dari sini. Satu arah menuju ke Bromo. Tanya si supir. Karena satu arah, saya pun mengiyakan tawaran dari si supir. Ternyata jaraknya paling lama hanya 30 menit.

Jalur menuju Bukit Kingkong ada di sebelah kiri jalan. Tepat di seberangnya, terdapat penjual makanan. 1 bungkus mie instan kembali kami santap sebelum menuju Bukit Kingkong. Rupanya berfoto di Penanjakan 1 cukup menghabiskan banyak tenaga kami.

Menatap masa depan di Bukit Kingkong

Kurang lebih seperti inilah Bukit Kingkong

Usai makan, kami hanya perlu berjalan 5 menit untuk bisa sampai di Bukit Kingkong. Terdapat area yang cukup luas ditempat ini dengan pembatas di setiap sisinya. Bukit Kingkong ini menawarkan view yang tidak jauh beda dengan penanjakan 1, hanya saja tempatnya sedikit lebih di bawah dan juga tidak terlalu luas seperti Penanjakan 1. Jadi buat kalian yang datang ke Bromo lalu pergi ke ke Penanjakan 1 untuk melihat sunrise dan ternyata penuh, Bukit Kingkong ini bisa menjadi tempat alternatif. Beneran deh, viewnya mirip seperti di Penanjakan 1.

Ada yang penasaran kenapa diberi nama Bukit Kingkong? Jadi di bukit ini terdapat satu bagian tebing yang menonjol secara alami dan (katanya) bentuknya menyerupai kepala dan wajah dari Kingkong. Itulah alasan kenapa tempat ini diberi nama seperti itu. Tak terlalu lama kami menghabiskan waktu di bukit dengan pemandangan memukau ini, sebab saat kami ke sana hanya kami saja yang berada di area tersebut. Jadi kami tidak perlu bingung atau mengantri untuk mendapatkan angle foto yang kami mau.

Gunung Batok

Pergi ke Bromo saat bulan puasa memang keputusan tepat yang saya ambil. Bromo jauh lebih sepi dan lebih lowong dari biasanya. Hal itu saya rasakan tidak hanya di Penanjakan1 dan Bukit Kingkong, tapi juga di daerah pasir berbisik, yang dekat dengan Gunung Batok. Ya, dari Bukit Kingkong, saya dan Helena langsung bergegas menuju kawasan ini, kawasan dengan pemandangan spektakuler lainnya. Dengan santainya mobil yang kami bawa melaju diantara bukit dan pepohonan yang ada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Kalau tadi kami hanya melihat Gunung Batok yang botak pada bagian puncaknya dari kejauhan, kini kami bisa melihatnya lebih dekat. Untuk ukuran gunung, memang Gunung Batok ini termasuk kecil. Mungkin lebih tepat apabila ia disebut bukit. Tepat di depan Gunung Batok, di tengah hamparan padang pasir yang luas, mobil yang kami tumpangi berhenti. Kami turun dan mengabadikan momen di sana sebentar. Kawasan Bromo pagi itu benar-benar kosong dan kami memanfaatkan dengan baik kekosongan tersebut.

Ketika kami sedang asyik berfoto di depan Gunung Batok, sesekali angin berhembus lembut menyentuh wajah dan tangan kami, dua bagian paling telanjang dari badan kami. Bersama dengan hembusannya, dibawa serta juga butiran pasir halus bersamanya, perpaduan antara angin dan pasir yang beterbangan menimbulkan suara-suara pelan yang menentramkan hati. Seolah angin dan pasir itu ingin berkata sesuatu pada kita dengan bahasa yang universal, bahasa kedamaian. Kini saya tahu mengapa tempat disekitaran sini dinamakan pasir berbisik. Saya bisa mendengar bisikan itu.

Menikmati kesunyian di depan Gunung Batok

Mendengar bisikan pasir

Melewati Gunung Batok, menuju Gunung Bromo

Gunung Bromo

Dari pasir berbisik kami langsung menuju ke daya tarik utama, apalagi kalau bukan Gunung Bromo. Dari kejauhan, kami bisa melihat kembali deretan jeep yang terparkir rapi di kawasan area parkir jeep di Gunung Bromo. Saat melihat ke depan, Gunung Bromo dengan gagahnya berdiri di hadapan kami, tepat di sebelahnya Gunung Batok berdiri tegak mendampingi.

Dari lokasi parkir ini, kami masih harus berjalan beberapa ratus meter untuk tiba di kaki gunung Bromo, belum lagi menanjak melewati puluhan anak tangga untuk bisa sampai ke bagian puncaknya. Sebenarnya, ada opsi lain untuk bisa sampai ke kaki Gunung Bromo, yaitu dengan menggunakan kuda. Hanya saja, harga sewa kuda ini bisa dibilang tidak murah untuk sebagian orang, termasuk saya. Jadi saya lebih memilih untuk berjalan kaki. Meskipun lelah, namun saya menikmatinya.

Sekitar 100 meter berjalan dari tempat jeep parkir, di sebelah kiri, kami bisa melihat sebuah pura besar nan indah di tengah padang pasir yang bernama Pura Luhur Poten Gunung Bromo. Pura ini merupakan tempat peribadatan yang digunakan oleh masyarakat Hindu Tengger. Terbayang sekali bagaimana jauhnya perjalanan dan perjuangan para umat yang ingin beribadah di sini. Salut untuk mereka.

Tempat Jeep Parkir

Pura Luhur Poten Gunung Bromo

Perjalanan menuju Kaki Gunung Bromo. Bisa dengan menggunakan kuda atau berjalan kaki

Perjalanan dari Pura Luhur Poten menuju kaki gunung masih cukup jauh, namun keindahan Bromo dan Gunung Batok yang kini berada di samping saya membuat saya kembali bersemangat. Saya tidak ingin kalah dengan keadaan atau mereka yang lebih memilih kuda sebagai sarana angkutan. Tidak ada keindahan yang bisa didapat dengan mudah, kan?

Jalan berpasir nan menanjak menuju kaki gunung kini menjadi hidangan kami. Perlahan namun pasti, jalur yang berat itu kami lalui. sebenarnya mungkin tidak berat, hanya saja panas yang menyengat siang itu membuat tenaga ekstra harus kami keluarkan. Betapa senangnya kami kala tangga mulai terlihat di hadapan. Tugas kami kini tinggal satu sebelum melihat kawah Gunung Bromo dari puncaknya, yaitu mendakinya. Terima kasih untuk siapapun yang sudah membuat anak tangga menuju ke Puncak Bromo. Hal itu benar-benar mempermudah kami. Terbayang sulitnya kalau harus mendaki jalur berpasir sampai puncak.

Sampai di puncak, bau belerang segera menyambut kami. Kawah Bromo dengan isi perutnya yang aktif terlihat jelas dari atas. Seolah mengetahui kehadiran kami, dikeluarkannya asap yang membumbung tinggi dari kawah itu sebagai ucapan salam. Tak lama berselang, asap itu hilang tersapu angin. “selamat datang”, kira-kira seperti itulah saya mengartikan asap itu.

Kurang lebih beginilah gambaran perjalanan dari Pura hingga menaiki tangga Bromo

Jalur di Puncak

Inilah kawah Bromo itu

Tidak banyak aktivitas yang kami lakukan di puncak. Kami hanya berdiam diri, memandangi kawah dan menikmati belaian sang bayu. Dari atas sini, kegagahan Gunung batok juga terpampang jelas. Tak ada kata yang bisa kami ucapkan selain syukur. Itulah wujud tertinggi penghormatan kepada sang Khalik.

Saat kembali, saya dan Helena memutuskan untuk menggunakan jasa penyewaan kuda. Rasanya kami sudah terlalu tua untuk kembali ke posisi dimana jeep kami berada. hahaha

Bukit Teletubbies

Dari Bromo, sebelum pulang, kami mampir ke spot terakhir yaitu Bukit Teletubbies. Berbeda dengan kondisi di sekitar Bromo yang penuh dengan pasir, di Bukit Teletubbies ini dipenuhi padang rumput. Suasana lebih ceria akibat dari warna hijau yang memenuhi area tersebut.

Yang paling saya suka dari Bukit Teletubbies ini sebenarnya bukan bukitnya, tetapi nuansa perjalanan untuk menuju ke sana. Perbukitan hijau tinggi nan cantik di bagian kiri dan kanan jalur menjadi teman setia sebelum tiba di sana. Padang rumput membentang indah diantara perbukitan yang ada.

Meskipun padang rumput yang luas menjadi arena bagi kendaraan yang ingin menuju Bukit Teletubbies, namun aksesnya tetap dibatasi. Tidak semua padang rumput boleh dilalui atau diinjak oleh kendaraan. Sudah ada area yang memang menjadi jalan bagi kendaraan. Inilah yang saya suka, tetap ada bagian lain yang dijaga.

Bukit Teletubbies

Bukit Teletubbies lengkap dengan papan namanya

Inilah jalur menuju Bukit Teletubbies yang indah itu

Puas menikmati keindahan Bukit Teletubbies yang memang mirip dengan bukit yang menjadi tempat bermain bagi Tinky Winky, Dipsy, Lala dan Poo, kami pun menyudahi perjalanan ini. Dari dalam Jeep, lambaian tangan mengiringi kepergian kami dari kawasan Bromo. Terima kasih Bromo karena telah memberi kami kesempatan untuk mengunjungi dan menikmati keindahan kalian dari dekat. Sampai jumpa di kunjungan kami berikutnya 🙂

Tambahan

  • Jangan lupa menggunakan jaket tebal bila ingin melihat sunrise sebab udara di sana benar-benar dingin.
  • Jangan lupa bawa penutup muka saat berkunjung ke kawasan bromo karena pasir kerap beterbangan tertiup angin.
  • Bawa makanan yang cukup dan air minum yang banyak, karena perjalanan di Bromo akan melelahkan.
  • Untuk jasa tour Bromo menggunakan jeep, kalian bisa menghubungi Mas Prass di nomor 0813 3338 4868.
  • Untuk info lengkap mengenai perjalanan Bromo dan juga Semeru, kalian bisa membacanya DI SINI.

Climb the mountains and get their good tidings.
–John Muir

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.