• Home
  • /
  • Destinasi
  • /
  • Perjalanan Menembus Batas: PLBN Motaain – Pos Batugade

Perjalanan Menembus Batas: PLBN Motaain – Pos Batugade

Sore itu, sekitar pukul 15:00 WITA, mobil yang membawa saya, Billy dan Chris dari jantung kota Atambua akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besar. Itulah gerbang untuk menuju ke PLBN Motaain. Kalian tahu kan apa itu PLBN? PLBN merupakan singkatan dari Pos Lintas Batas Negara, pos terakhir yang berbatasan langsung dengan negara lain. Sedangkan Motaain adalah nama dari PLBN yang ada di Silawan, Tasifeto Timur, Belu, Nusa Tenggara Timur.

Ya, tujuan kami kali ini adalah main ke perbatasan antara Indonesia dengan Timor Leste, 2 negara yang tadinya 1. Total ada 3 perbatasan RI dengan Timor Leste di NTT ini. Yang pertama adalah PLBN Motaain di Kabupaten Belu, lalu ada PLBN Motamasin di Kabupaten Malaka dan yang terakhir PLBN Wini di Kabupaten Timor Tengah Utara. Dari ketiganya, PLBN Motaain-lah yang paling ramai dikunjungi. Melihat gerbang itu, mobil kami pun masuk mengikuti jalan yang sudah teraspal rapi hingga ke dalam lokasi parkiran mobil.

Saat turun, pemandangan luar biasa menyambut kami. Gedung-gedung pada zona inti seperti bangunan utama, power house dan bangunan untuk pemeriksaan kendaraan yang masuk berdiri gagah dengan atap menyerupai rumah adat Matabesi. Sentuhan adat Belu yang dulu hilang kini muncul kembali, hanya saja kini tampil dengan lebih modern.

PLBN Motaain dulu
Pic via ini

Bangunan Utama PLBN Motaain usai direvitalisasi. pic via detik

 

Aerial view of PLBN Motaain. pic via ini

Rumah Matabesi yang menjadi insiprasi bagian atap PLBN Motaain

PLBN Motaain ini merupakan salah satu dari sekian banyak PLBN yang dipercantik dan dibuat lebih indah oleh Presiden Jokowi (diresmikan 28 Desember 2016). Menurut Ardi, supir yang membawa saya, dulunya PLBN Motaain ini jelek sekali, mirip seperti kantor kelurahan. Namun sejak diperbarui, kini PLBN Motaain gagah sekali. Menurut saya, memang sudah seharusnya pos perbatasan dibuat gagah. Hal tersebut guna menunjukkan kepada negara yang berbatasan langsung kalau memang Indonesia ini peduli, menjaga dan memperhatikan daerah perbatasan juga.

Salah satu dari kami diminta untuk menyerahkan KTP kepada satpam ketika kami menuju pos security. KTP tersebut kemudian ditukarkan dengan sebuah kartu pengunjung. 1 kartu untuk 1 kelompok. Hal tersebut kami lakukan sebab kami tidak membawa paspor. Usai mendapat kartu pengunjung, kami bertiga dengan ditemani Ardi, melenggang masuk ke bangunan utama dari PLBN Motaain.

Bangunan utama ditujukan bagi mereka yang ingin masuk ke Timor Leste dengan tujuan tertentu dan membawa paspor. Semua barang bawaan dan kelengkapan dokumen akan diperiksa di sana. Setelah memenuhi syarat, barulah mereka boleh masuk ke wilayah Timor Leste. Kalau hanya main ke perbatasan seperti yang kami lakukan, paspor tidak diperlukan. Kami pun jalan di bagian samping dari bangunan utama, alias di bagian luarnya.

Melewati bangunan utama, kami meminta izin untuk masuk ke perbatasan Timor Leste

Prasasti yang ditandatangani oleh RI dan TImor Leste mengenai batas wilayah

Burung Garuda tegak berdiri

Merah Putih Motaain Indonesia

Melewati bangunan utama, Burung Garuda berukuran besar berdiri tegak menghadap ke arah Timor Leste. Ya, keindahannya baru akan terlihat jelas apabila kita berjalan dari arah Timor Leste menuju Indonesia. Tidak jauh dari Burung Garuda, lebih tepatnya di area taman berbentuk lingkaran, tulisan Motaain berwarna merah bersanding dengan tulisan Indonesia berwarna putih. Merah putih yang menjadi bendera Indonesia diwakilkan dalam tulisan “Motaain Indonesia” tersebut.

Tepat di depan tulisan Motaain Indonesia, berdirilah sebuah gerbang yang dijaga oleh TNI, gerbang terakhir yang berada di wilayah Indonesia. Kala kaki sudah melangkah melewati gerbang tersebut, kita tidak lagi berada di wilayah NKRI.

Gerbang Terakhir sebelum ke luar negeri

Apa yang bisa dilakukan usai Melewati Perbatasan?

Setelah mendapatkan izin untuk meninggalkan wilayah NKRI oleh para TNI yang gagah namun tetap murah senyum, dengan yakin kami melewati gerbang perbatasan. Sebelum menuju Timor Leste, saya berfoto terlebih dahulu di sebuah jembatan dengan tiang pegangannya yang dicat dengan warna bendera Timor Leste & Indonesia di kedua sisinya dan gerbang bertuliskan INDONESIA sebagai latarnya. “Sudah sah kini saya berada di luar negeri,” Ucap saya dalam hati dan ini merupakan pengalaman pertama saya memasuki wilayah perbatasan.

Sepanjang jalan sebelum tiba di Pos Perbatasan (Posto Fronteirico Integrado) Batugade milik Repubik Demokratik Timor Leste di Bobonaro, angin berhembus sejuk mengiringi langkah kami. Pantai di sebelah kiri nan cantik seolah tak mau melepas langkah kami, dengan setia ia menemani. Ya, perbatasan RI- TImor Leste tepat berada di pinggir pantai. Konon katanya, dulu pantai ini digunakan oleh warga Timor Timur sebagai jalur alternatif untuk menyeberang ke wilayah NKRI saat mereka memutuskan tidak ingin bergabung dengan Timor Leste.

Sebuah jembatan dengan tulisan Bem-Vindo A Timor Leste pada kerangka bagian atasnya menyambut kami. Dalam Bahasa Indonesia artinya selamat datang di Timor Leste. Jembatan itu tentunya kembali menghentikan langkah kami. Sebelum memasuki Pos Perbatasan Batugade, tak lupa kami mengeluarkan kamera untuk mengabadikan momen dimana kami berada di depan pos perbatasan Timor Leste. Pengalaman pertama yang tak akan terlupakan.

Sesaat setelah melewati gerbang terakhir milik Indonesia

Selamat datang di Timor Leste

Foto bareng Dulu

Berjalan sedikit memasuki wilayah Pos Perbatasan Batugade, sebuah monumen bertuliskan Timor Leste pada bagian badannya dan rumbai di bagian kepala monumen menerima kehadiran kami. Di sebelahnya, bendera hitam, merah, kuning dengan bintang putih berkibar di atas tiang bendera. Sampai di titik ini, kepemimpinan lalu diambil alih oleh Ardi saya yang memang pemuda asli Belu.

“Ayo ikut saya, kita ke warung yang ada di perbatasan Timor Leste.” Ajak driver kami.

“Mau apa di sana? Memangnya boleh ke sana?” Tanya saya dengan polos.

“Boleh. Sudah ikut saja.” Pintanya.

Driver kami pun berjalan paling depan. Ketika tiba di bagian utama dari Pos Perbatasan Batugade, ia terlihat berbicara dengan tentara Timor Leste yang menjaga perbatasan itu. Setelah mendapat kode bahwa kami boleh lewat darinya, kami pun berjalan melalui tentara tersebut dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada mereka. Meskipun bahasa yang mereka gunakan itu Portugis, tapi mereka tetap paham bahasa Indonesia kok. Dulunya kan kita dan mereka ini satu 🙂

Tepat di seberang wilayah bangunan utama dari Pos Perbatasan Batugade, dengan hanya dibatasi oleh pagar teralis yang tidak terlalu kokoh, sampailah kami di warung yang dimaksud oleh supir kami. Kami cukup kaget melihat apa yang dijual di warung tersebut. Kalian mau tahu apa? yang dijual adalah minuman beralkohol semacam Jack Daniels, Red Label, dan sejenisnya dengan harga yang cukup miring. Ada juga beberapa minuman dan makanan lainnya yang tidak akan kalian temukan di Indonesia. Ini bukan Duty Free lho ya, sebab Duty Free ada di bagian zona inti dari Pos Perbatasan Batugade.

Pos Perbatasan Batugade

Foto Bersama di bawah Tugu Timor Leste

Batu prasasti di bawah tugu Timor Leste yang ditandatangani oleh Xanana Gusmao

Karena sore itu cukup panas dan kami sudah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki yang jaraknya cukup lumayan, akhirnya kami membeli beberapa minuman segar untuk mengobati dahaga kami. Dan sebagai oleh-oleh, tak lupa kami membeli beberapa minuman soda dan juga minuman beralkohol untuk kami minum di Belu nanti. Buat kalian yang suka minuman beralkohol, tempat ini surga banget. Harganya murahhhh!!!

Tak terasa, kami sudah menghabiskan waktu 45 menit, mulai dari perjalanan di PLBN Motaain, foto-foto, hingga akhirnya tiba di Pos Perbatasan Batugade dan bersantai serta belanja di sana. Gerbang untuk keluar dan masuk ke wilayah PLBN Motaain hanya dibuka hingga pukul 16.00 WITA, setelah itu gerbang akan ditutup dan tidak akan ada lagi aktivitas di wilayah perbatasan hingga esok hari datang. Hal tersebut membuat kami harus segera bergegas untuk kembali ke wilayah NKRI.

Terima kasih Indonesia dan Timor Leste yang sudah mengizinkan kami untuk bisa jalan-jalan di wilayah perbatasan 2 negara. Merupakan sebuah pengalaman seru bisa berkunjung dan mengabadiakan momen di wilayah perbatasan. Tak bisa dipungkiri, meskipun hanya bangunan biasa di tiap wilayah negara dengan sebuah jalur yang menghubungkan keduanya, PLBN Motaain – Pos Perbatasan Batugade ini bisa dibilang menjadi salah satu destinasi wisata (baru).

Bila ke Belu, jangan lupa mampir ke PLBN Motaain ya dan rasakan seru dan deg-degannya melewati wiayah perbatasan.

Lokasi Warung yang ada di seberang bangunan utama Pos Batugade

Dipilih-dipilih

Jangan lupa bayar

PLBN Motaain vs Pos Perbatasan Terpadu (Posto Fronteirico Integrado) Batugade

Setelah mengunjungi 2 perbatasan milik masing-masing negara, PLBN Motaain (Indonesia) dan Pos Perbatasan Batugade (timor Leste) dan membandingkannya, saya bisa simpulkan bahwa PLBN Motaain lah yang menjadi juaranya. PLBN Motaain menang di semua lini mulai dari luas wilayah, tata letak bangunan yang ada di zona inti, banyaknya petugas penjagaan, keindahan arsitektur bangunan, jalur pedestrian dan juga keteraturan.

Ingin Melewati Perbatasan PLBN Motaain, Perhatikan Hal Berikut.

  1. Untuk kalian yang ingin masuk ke wilayah perbatasan dengan tanpa menggunakan Paspor, jam kunjungan hanya dibuka pukul 15:00 – 16:00 WITA. Di luar jam tersebut, pengunjung tanpa paspor tidak diizinkan masuk.
  2. Untuk kalian yang ingin masuk ke wilayah perbatasan dengan menggunakan paspor, gerbang dibuka mulai dari pukul 08:00 – 16:00 WITA. Namun jangan masuk ketika jam makan siang 12:00 – 13:00 WITA karena kemungkinan gerbang ditutup.
  3. Gerbang perbatasan buka setiap hari, mulai jam 08:00 – 16:00 WITA.
  4. Meskipun menggunakan DOllar sebagai mata uangnya, di wilayah pos perbatasan Batugade ini, kita tetap bisa menggunakan mata uang rupiah untuk berbelanja seperti yang sudah pernah saya lakukan.
  5. Sebagai info tambahan, waktu di wilayah Bobonaro, lokasi pos Perbatasan Batugade, lebih cepat 2 jam (GMT +9) bila dibandingkan Indonesia. Hal tersebut yang membuat perbatasan Indonesia ditutup pukul 16:00 WITA.

Cara menuju ke PLBN Motaain

Ada berbagai cara untuk bisa menuju PLBN Motaain, namun saya akan coba berikan yang saya tahu:

  1. Bila kalian berangkat dari Alor seperti yang saya lakukan, kalian bisa menyeberang menuju Belu dengan menggunakan Kapal Feri dari Pelabuhan Kalabahi. Lama perjalanan kurang lebih 7 jam. Sesampainya di Pelabuhan Teluk Gurita, Belu, kalian bisa menggunakan angkutan umum tuyul (Mobil bak terbuka yang disulap menjadi angkutan umum) menuju ke Atambua. Baru dari sana menyewa kendaraan untuk pergi ke PLBN Motaain.
  2. Bila dari Kupang, ada 2 cara. Yang pertama adalah dengan menggunakan travel ke Belu dari Bandara El Tari. Lama perjalanan kurang lebih 6 jam. Setibanya di Belu, cara yang sama seperti nomor 1 bisa kalian lakukan yaitu menyewa mobil. Cara yang kedua, dengan menggunakan pesawat menuju Belu. harganya cukup murah (sekitar Rp 300-500 ribu) dan waktu tempuh ke Belu hanya 30 menit (untuk jadwal pesawat kalian bia periksa sendiri di web). Setibanya di bandara, kalian bisa melanjutkannya dengan menyewa kendaraan.
  3. Bila ingin langsung menuju Timor Leste (Dili), kalian juga bisa menggunakan travel yang tersedia di Kupang. Tapi jangan lupa bawa paspor ya.

Bandar udara di Belu

Pelabuhan Teluk Gurita

Lama perjalanan dari Atambua ke PLBN Motaain kurang lebih hanya 45 menit. Jalannya sudah sangat rapi dan mulus dan rutenya juga tidak terlalu menanjak. Tidak perlu mobil khusus seperti 4WD untuk menuju ke sana.

Kontak

Sewa Mobil + Supir Belu (Ardi) →082236404943 (Telepon & SMS)

The love of one’s country is a splendid thing. But why should love stop at the border? 
–Pablo Casals

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.