Gunung Ijen: Bentangan Kawah Indah dan Nyala Api Biru Abadi

Pukul 23:00 WIB, kami bangun dari tidur kami yang kurang lelap itu. Disaat umumnya orang-orang bangun pukul 05:00 WIB, hari itu kami harus terbangun secepat itu. Padahal kami baru terlelap sekitar pukul 19:00 WIB. Bukannya tanpa tujuan, kami melakukanya demi melihat sebuah pemandangan, katanya sih itu yang namanya pengorbanan. Pemandangan yang saya maksud di sini adalah pemandangan indah nan memesona berupa bentangan indah Kawah Ijen dan api biru (abadi) yang merupakan idola para ibu (kalau kamu tahu joke itu berarti fix kamu tua).

Tepat pukul 23:30 WIB, dengan rasa kantuk yang belum mau pergi, kami sudah mengemas barang bawaan kami dan memasukkannya ke dalam mobil. Kami melakukan check out dini dari penginapan kami di Ijen Tree House. Sembari dilakukan pemeriksaan, mobil kami panaskan. Ketika sudah mendapat konfirmasi kami bisa meninggalkan penginapan, kami pun segera berpamitan dengan Daniela, si pemilik penginapan.

Laju mobil langsung membelah kesunyian dan cahaya lampunya berhasil mengalahkan kegelapan. Dengan gesit supir yang mengantar kami melewati setiap tikungan dan berhati-hati melalui setiap tanjakan. Karena masih mengantuk, saya tidak sempat mengarahkan pandangan ke depan. Keinginan mata untuk terpejam tak lagi tertahan. Meskipun begitu, saya merasakan setiap goyangan yang ditumbulkan dari laju kendaraan.

Taman Wisata Alam Kawah Ijen

Lokasi Parkiran Mobil dan Warung untuk Nongkrong

Lokasi Parkiran Motor

Sebuah tepukan di pungung suskes membangunkan, dan ketika tersadar yang saya tahu saya sudah sampai di tujuan, di atas sebuah parkiran. Kurang lebih 45 menit durasi dari penginapan sampai ke parkiran kawah ijen. Ketika keluar mobil, dengan cepat dingin menyesap ke dalam tubuh ini melalui celah-celah jaket. Dengan eratnya dingin itu mendekap kami seolah tak mau terlepas.

Karena masih kepagian dan juga butuh kehangatan, saya, Chris, Billy dan Randy pun melipir sebentar ke salah satu warung. Apalagi yang kami pesan kalau bukan mie instan. Kalian juga pasti suka, kan? Siapa yang bisa menolak kenikmatan yang ditawarkan oleh makanan paling enak sepanjang zaman? Sementara kami memesan makanan, Monika dengan sigapnya mengantri tiket di depan loket dimana rombongan manusia sudah mengular cukup panjang.

Usai mendapatkan tiket, Monik bergabung dengan kami di warung. Sambil menunggu pukul 01:00 WIB, waktu dimana pendakian sudah dibuka, kami bersantai sejenak dengan ditemani segelas teh panas, setelah menghabiskan mie instan tadi tentunya.

Paltuding

Tempat Pembelian Tiket Pendakian

Gerbang Pendakian (yang mungkin sekarang sudah rapi)

Pendakian Menuju Puncak Kaldera

Ketinggian Gunung Ijen ini kurang lebih 2443 MDPL dan untuk mencapainya kami harus memulainya dari Paltuding yang memiliki ketinggian sekitar 1.800 MDPL. Tepat pukul 01:00 WIB, berselimut jaket tebal dan dengan tangan yang terbungkus sarung, kami memulai pendakian bersuhu cukup dingin itu bersama para pendaki lainnya.

Langit masih begitu gelap. Kami berjalan dengan bantuan lampu penerangan yang kami bawa masing-masing. Dengan penuh kehati-hatian kami melangkah. Belum terlihat adanya tanda-tanda pemandangan cantik seperti yang dibicarakan banyak orang. Pepohonan yang menghiasi kiri dan kanan kami pun belum terlihat jelas rupanya. Untungnya, jalur pendakian menuju kawah ini sudah jelas. Tanahnya kosong dan tidak ditumbuhi rerumputan, serta jalannya cukup lebar sehingga pendaki pemula seperti saya tidak akan tersesat.

15 menit berjalan, terlihat beberapa orang sudah mulai membuka jaketnya. Ya, memang suhu dingin hanya akan terasa bila kalian diam. kalau sedang mendaki, panas akan tertahan di dalam jaket dan membuat kalian bisa kepanasan. Saya sudah mengetahui itu sejak awal, sehingga saya sudah membuka jaket yang saya pakai sejak pertama kali mendaki dari Paltuding.

Pondok kecil yang dibangun untuk membantu para wisatawan yang (mungkin) ingin beristirahat ketika mendaki

Jalur Pendakian: Driver Taxi Ijen terlihat sedang menunggu penumpang

Beberapa menit kemudian, terlihat banyak pendaki yang mulai berjalan lambat. Ada yang mulai terlihat berdiri tak bergerak, ada juga yang sudah terduduk di sisi jalan sembari menunggu tenaga terkumpul kembali. Melihat beberapa pendaki yang kelelahan, para orang lokal pun mulai menawarkan jasa “Taxi Ijen” untuk sampai ke puncak kaldera.

Belum tahu taxi Ijen ya? Coba baca lengkapnya DI SINIHarga sewa jasa taxi ijen pun bervariasi, intinya semakin tinggi kalian mendaki semakin murah harganya sebab tujuan semakin dekat. Tidak ada harga baku dan kemampuan tawar menawar pun menjadi kunci.

Kami yang masih muda terus berjalan tanpa henti. Sudut kemiringan pendkian kurang lebih hanya 23-25° saja, tidak terlalu curam menurut saya pribadi. Kami baru berhenti ketika sampai di Pondok Bunder (2214 mdpl). Di sana terdapat sebuah warung bernama Kantin Ijen yang menyediakan beberapa panganan ringan dan juga minuman hangat. Kami mampir untuk beristirahat dan membeli beberapa cangkir kopi. Harganya cukup bersahabat kok untuk sebuah warung di kaki gunung.

Pondok Bunder

Kantin Ijen

Ngopi Dulu gan

Setelah kopi habis, kami segera melanjutkan perjalanan kembali. Jika kalian sudah mendaki hingga Pondok Bunder, berarti kalian sudah setengah jalan. Beberapa saat kemudian, saya bisa melihat dan merasakan kalau pepohonan sudah mulai menghilang. Tandanya kami sudah mau sampai di puncak kaldera. Angin berhembus dengan kerasnya di titik ini karena tidak ada lagi yang menghalangi. Kembali saya gunakan jaket yang selama perjalanan saya pegang. Tak terasa 2 jam sudah kami berjalan.

Kami terus melangkah melewati puncak kawah hingga terlihat beberapa orang yang berdiri sambil ……..

Perjalanan Menuju Api Biru

Menawarkan masker. “Mas, api biru ada di bawah sana. Kalau mau ke bawah, jangan lupa pakai masker, mas. Aroma belerangnya berbahaya, bisa bikin sesak nafas.” Begitulah perkataan dari salah seorang yang memegang masker cukup banyak. Saya pun sontak langsung melihat ke arah bawah dan ternyata jauh sekali lokasi api birunya. Karena baru pertama kali ke Gunung Ijen, saya pun “terhipnotis” oleh kalimat tawaran dari si pemegang masker tersebut yang ternyata jasa sewa masker.

“Berapa?” Tanya saya.

“Rp 25.000 saja mas. Benar mas, bahaya banget kaau tidak pakai masker. Saya saja yang orang lokal tidak berani kalau turun tidak pakai masker.” Jawabnya dengan embel-embel yang cukup panjang guna meyakinkan saya dan teman-teman untuk menyewa maskernya.

Tidak ingin kenapa-kenapa, kami pun menyewa masker tersebut. “Jangan hanya karena sayang Rp 25.000, lalu nanti kami kenapa-kenapa,” Itu yang ada di otak saya kala itu. Usai menggunakan masker, kami pun turun perlahan-lahan. Kini jalurnya tanah bercampur batu-batu kecil. Karena turunnya curam, jalur dibuat zig-zag agar mempermudah para wisatawan yang naik dan turun.

Perjalanan di bibir Kaldera

Bersiap melihat si Api Biru

Penambang Belerang yang Super Duper Kuat. Pic via ini

Kalian harus hati-hati agar tak tergelincir sebab jalurnya cukup licin dan susah menurut saya, lebih susah dari Paltuding ke Puncak Kaldera. Belum lagi penerangan cukup minim sebab sang surya belum menampakkan dirinya pukul 03:00 WIB. Sesekali kami juga harus berhenti sebab para penambang belerang terlihat sedang berupaya naik kembali usai menambang belerang di bawah sana. Jalurnya hanya itu sehingga wisatawan dan penambang harus berbagi jalur.

Saat melihat penambang mengangkat belerang yang diletakkan dalam dua buah keranjang yang dihubungkan dengan kayu di pundaknya, saya pun salut dan kagum. Dari bawah ia membawa belerang 70 Kg di pundaknya untuk dibawa kembali hingga ke Paltuding. 70 Kg, coba kalian bayangkan beratnya yang tidak sebanding dengan harga jualnya. Tapi itulah pekerjaan beresiko tinggi yang mereka ambil. Untungnya sekarang sudah ada pekerjaan alternatif lainnya bagi mereka yaitu driver taxi Ijen.

Tak lama ingin terhanyut dalam lamunan si penambang belerang, saya kembali melanjutkan perjalanan. Setelah 30 menit melewati jalur yang curam, akhirnya kami tiba di tempat yang cukup dekat dan aman untuk menyaksikan fenomena api biru. Jadi api biru ini adalah sebuah fenomena alam yang terbentuk akibat gas belerang yang keluar dari dalam tanah lalu berjumpa dengan oksigen. Pembakaran gas belerang inilah yang menghasilkan panas dan cahaya berwarna biru yang biasa kita kenal dengan istilah Blue Fire.

Penampakan si Api Biru.
Pic via ini

Rombongan wisatawan berburu api abadi

Ratusan orang langsung berdiri di posisinya masing-masing dan mengabadikan fenomena alam ini dengan kamera mereka. APi biru ini memang sangat cantik. Kehadirannya di tenga kegelapan pagi membuat warna birunya terlihat jelas menyala. Sebagai warga Indonesia kita patut berbangga sebab fenomena api biru abadi, yang terjadi sepanjang hari dan sepanjang tahun HANYA ada di Indonesia, ya di Kawah Ijen ini.

Waktu yang paling baik untuk menikmati api biru ini adalah pukul 02:00 – 05:00 WIB. Itulah sebabnya para wisatawan rela mendaki pagi-pagi untuk melihatnya. Sebenarnya setelah pukul 05:00 WIB pun api biru ini masih tetap ada, karena memang dia abadi. Hanya saja cahaya terang dari matahari membuat si api biru ini tidak terlihat di pagi hari.

Setelah puas berfoto dengan si api biru barulah saya tersadar kalau saya termakan kalimat marketing dari si penjual jasa sewa masker. Menurut saya pribadi, tidak masalah tidak menggunakan masker untuk turun ke lokasi api biru. Bau belerangnya masih cukup wajar dan tidak terlalu berpotensi membuat sesak dada. Banyak juga wisatawan yang terlihat tidak menggunakan masker (maksudnya tidak termakan buaian si penual jasa sewa masker). Saya sendiri tidak yakin kalau filter pada masker saya itu masih bagus. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur. Jadi ya dimakan saja.

Usai menyesali peristiwa itu, saya dan teman-teman pun memutuskan untuk kembali ke puncak kaldera. Perjalanan mendaki sudah menanti dan harus kami lalui. Stop complaining and moving on. setelah 45 menit berjalan kami pun tiba di puncak kaldera dan …….

Pemandangan Ijen di Pagi Hari

Disuguhi dengan pemandangan yang luar biasa indah. Matahari sudah keluar dari persembunyiannya dan membawa sinarnya yang terang. Dari atas sini pemandangan kawah ijen dengan airnya yang berwarna tosca terlihat sangat jelas. Begitu memesona. Tak mungkin rasanya wisatawan yang datang hanya berdiam memandanginya tanpa mengeluarkan kamera untuk mengabadikannya, termasuk juga saya.

Kawah indah yang masih tertutup kabut

Kawah Ijen.
Pic via ini

Jalur di puncak kaldera pun terlihat begitu jelas. Tak kuasa saya menahan rasa syukur karena berkesempatan untuk mampir ke daerah yang indah ini. Sembali berjalan kembali, kami pun mencari spot-spot foto yang bagus guna memenuhi memori. Wajah-wajah yang kelelahan saat mendaki berubah menjadi senyum di atas sini kala melihat bentangan kawah nan cantik dari puncak kaldera.

Sambil melambaikan tangan tanda sebuah perpisahan, kami kembali menyusuri jalur yang panjangnya kurang lebih 3 KM menuju parkiran mobil. Saat jalan kembali, tak henti-hentinya saya berdecak kagum ternyata banyak pemandangan cantik yang kami lalui tadi. Kalau tadi tertutup oleh gelapnya malam, kini semuanya tampak jelas dengan telanjang. Terima kasih Ijen untuk semuanya. Untuk pesonamu, keramahanmu, kekeluargaanmu dan hal-hal baik lainnya yang kami rasakan di sini. Semoga suatu saat kami bisa bertemu kembali denganmu.

Rombongan Manusia

Baru Muncul, ernyata tadi saya melewati pemandangan sebagus ini

Jalur yang saya Lalui untuk menuju Kawah Ijen

Info Tambahan

  • Saat pagi, banyak penjual ukiran belerang di sepanjang jalan turun. Kalau memang kamu punya rezeki lebih, belilah untuk membantu perekonomian warga di sana. Bagus-bagus kok ukirannya.
  • Jasa Taxi Ijen tidak hanya tersedia untuk pendakian, tapi juga saat turun. Berdasarkan pengalaman, harga naik lebih mahal daripada harga turun. Dan semakin dekat kamu dengan tujuan, baik itu saat naik atau turun, semakin murah harga yang ditawarkan.
  • Jangan terlalu kejam menawar harga sewa Taxi Ijen ya. Ingat, itu bukan pekerjaan mudah. Kalau masih belum tahu apa itu taxi ijen, saya kasih lagi linknya → INI
  • Jangan lupa bawa air minum secukupnya saat mendaki.
  • Istirahat yang cukup agar kondisi prima saat mendaki.
  • Ada beberapa jalur untuk menuju Gunung Ijen ini, namun jalur yang saya pilih adalah jalur dari Kota Banyuwangi →Licin→Paltuding→Kawah Ijen.
  • Jika tidak ingin menginap di penginapan dan lebih ingin membuka tenda, kalian bisa melakukannya di Paltuding.
  • Paltuding bisa dicapai dengan menggunakan mobil atau motor.
  • Semua gambar yang saya ambil ini pada saat perjalanan kembali, karena saat berangkat kondisi cahaya masih sangat minim.

Mountains are earth’s undecaying monuments.
–Nathaniel Hawthorne

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.