Sering Kesulitan Saat Ingin Memulai Menulis? Coba Beberapa Tips Dari Beradadisini Berikut Ini

Suka traveling tapi sering kesulitan memulai menulis di blog? SAMA. Meskipun sudah cukup sering menulis di blog, saya pun masih sering mengalami hal tersebut. Bukan karena tidak ada bahan, justru bahannya banyak banget tapi bingung mana yang mau ditulis dan bagaimana untuk memulainya. Ya, memulai adalah sesuatu yang sulit dan memilih kalimat pembuka untuk suatu tulisan itu sama sulitnya kayak memilih jodoh. Salah langkah atau salah tulis, bisa-bisa mood berubah tidak bagus dan mempengaruhi kualitas tulisan selanjutnya.

Namun masalah tersebut tidak lagi menjadi suatu penghalang yang besar untuk saya. Sejak mengikuti kelas menulis yang diadakan oleh Akademi Berbagi pada bulang Januari 2019 lalu, saya menjadi tercerahkan dan menjadi tahu apa yang harus saya lakukan untuk mulai menulis. Kelas menulis yang saya ikuti bulan Januari 2019 lalu itu dipimpin oleh Hanny Kusumawati atau di dunia Instagram lebih dikenal dengan Beradadisini.

Kapasitasnya sebagai seorang penulis tidak perlu diragukan lagi. Mbak Hanny ini salah satu penggagas writingtable, sebuah akun yang mengajak kita untuk jatuh cinta dengan kata-kata dan tulisan. Untuk kalian yang belum kenal dengan Mbak Hanny dan ingin mengetahui tentang kualitas tulisannya, silakan mampir ke blog pribadinya ya DI SINI dan nikmati setiap untaian kata yang dia ketik di sana.

Okay, tanpa berlama-lama lagi, berikut ini beberapa teknik yang bisa kalian coba ketika kalian mengalami kesulitan saat ingin memulai menulis, yang Mbak Hanny namakan dengan Writer’s Toolbox:

Free Writing

Contoh Freewriting dari beberapa tema yang saya lakukan pada kelas menulis dari Akademi Berbagi

Dari sekian banyak metode, free writing ini adalah favorit saya untuk “pemanasan” sebelum memulai menulis. Apa sih free writing itu? Kalau boleh saya deskripsikan, free writing adalah momen menulis bebas dan cepat mengenai suatu tema dengan durasi yang kalian tentukan sendiri. Mungkin penjelasan saya masih agak kurang detil ya dan untuk memperjelasnya, saya akan coba memberikan contohnya.

Untuk memulai free writing, kalian bisa mengambil buku dan alat tulis kalian. Jika sudah, tentukanlah sebuah tema agar tulisannya tidak terlalu melebar, contohnya “Liburan bersama Ayah”. Tahap terakhir, tentukan waktunya, berapa lama kalian ingin menulis tentang hal tersebut. Kita ambil contoh 3 menit ya.


Nah, selama 3 menit itu, cobalah untuk menulis sebebas-bebasnya tentang liburan kalian bersama ayah. Ingat, menulislah secara bebas tanpa harus terlalu peduli dengan alur atau tata bahasa yang baik. Jangan sampai pulpen kalian berhenti mengeluarkan tintanya sebelum 3 menit itu selesai. Saat 3 menit itu habis, berhentilah menulis dan lihat berapa banyak kata dan berapa banyak lembaran kertas yang bisa kalian lahap untuk menulis.

Metode ini berguna sekali untuk mematikan pikiran negatif dan membuktikan kalau kita sebenarnya memang bisa menulis dan bercerita. Pengalaman saya pribadi, seringkali metode ini berakhir dengan sebuah tulisan yang sudah tidak bisa saya baca jika sudah lewat 1×24 jam. Dan setelah memulai free writing, biasanya pikiran saya akan terbuka dan jalan untuk menulis menjadi lebih gampang.

Asking Questions

Bertanyalah. pic via upcloseteam

Cara selanjutnya adalah dengan bertanya. Saya pun suka menggunakan tool yang satu ini. Bertanyalah pada diri kalian sendiri sebelum memulai menulis kenapa kalian mau menulis tentang hal tersebut. Jika sudah tahu, baru kalian mulai dengan pertanyaan selanjutnya seperti apa yang membuat tempat ini berbeda dari tempat lain, kenapa para pembaca harus mampir ke tempat ini, bagaimana cara menuju ke sana, apa saja yang boleh dibawa dan tidak boleh dibawa, dan banyak pertanyaan lainnya.

Misalnya kalian mau mencoba menulis tentang Gunung Latimojong. Nah, kalian mulai bisa bertanya dimana sih letak gunung itu, bagaimana cara untuk menuju gunung itu, berapa ketinggiannya dan berapa kira-kira waktu tempuh untuk bisa sampai ke puncaknya dari pos pendakian yang paling bawah. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, biasanya akan muncul rantai-rantai tak kasat mata yang akan menyambung satu bagian ke bagian lainnya sehingga membentuk cerita yang enak untuk ditulis dan dibaca.

Octopus Method

Octopus Method


Kalian tahu gurita kan? Apa yang paling banyak jumlahnya pada tubuh gurita? Ya, tentakelnya. Tentakel itulah yang kalian gunakan untuk meletakkan poin-poin dari apa yang ingin kalian tulis. Lakukanlah brainstorming terlebih dahulu. Jika sudah, mulailah menuliskan ide-ide gila kalian menjadi poin-poin dan letakkanlah pada “kaki-kaki gurita” tersebut.

Tujuan brainstorming adalah untuk membuka segala macam kemungkinan yang bisa menjadi bahan tulisan dan memancing aliran ide untuk muncul ditengah sumur ide yang sedang mengering. Bagaiamana jika ide-ide yang muncul berantakan? Tidak masalah. Tulis saja dulu. Di bagian akhir nanti, barulah eliminasi poin-poin yang kamu anggap tidak penting dan kemudian bentuklah cerita dari poin-poin yang ada tersebut.

Micro vs Macro

Macro micro. Pic via Adobomagazine

Dari namanya sudah terlihat jelas, besar dan kecil. Jadi dari apa yang mau kalian tulis, kalian harus menentukan apa yang akan kalian besarkan dan apa yang ingin kalian kecilkan. Misalkan kalian mau menulis tentang Bakwan Malang dekat rumah kalian yang enak banget. Kalian bisa menentukan misalnya yang kalian mau besarkan adalah rasanya, jadi bahaslah mengenai ingredients-nya, cara memasaknya, cara menyajikannya dan resep-resep rahasianya. Kalian bisa memperkecil bagian yang tidak terlalu penting misalnya mengenai sejarah tempat jualan Bakwan Malang tersebut, tempat jualan ini pernah mengalami kebangkrutan, dan hal-hal yang kurang mendukung soal rasa dari Bakwan Malang itu.

Ingat ya, bagian-bagian yang tidak terlalu penting ini diperkecil bagiannya, bukan dihilangkan seutuhnya. Jadikanlah hal tersebut sebagai pemanis.

Pros vs Cons Research

pros vs cons. Pic via Excellconnection

Apa sih maksudnya Pros and Cons di sini? Maksudnya jika ingin menulis, bahaslah tulisan dari 2 sudut yang berbeda, dari sudut yang satu dan sudut yang berseberangan dengan yang satu itu. Tujuannya apa? Agar pikiran kalian lebih terbuka dan tulisan yang kalian sajikan itu lebih berimbang.

Misalnya ketika kalian jalan ke Papua, kalian melihat ada sekelompok orang yang berdemonstrasi agar Papua memerdekakan diri dari Indonesia dan menurut kalian itu bisa menjadi bahan tulisan yang menarik untuk kalian. Nah, kalian bisa mulai research untuk membahas kenapa sih ada pihak yang ingin memerdekakan diri dan kenapa sih ada juga yang kekeh ingin tetap menjadi bagian dari NKRI.

Dengan adanya tulisan dari kedua sisi, bacaan jadi “lebih seru” dan kita bisa tahu kenapa sih ada yang ingin memerdekakan diri. Tulisan yang berimbang dari dua sisi itu menjadikan pembaca bisa menilai secara lebih objektif dan tidak terlalu cepat menghakimi bahwa si A yang benar dan si B yang salah atau sebaliknya.

*****

Ya itu tadi sedikit tips yang saya dapat dari kelas menulis yang diadakan oleh Akademi Berbagi. Kalau Mbak Hanny mampir ke tulisan ini, mohon dikoreksi ya mbak, mungkin saja ada penjelasan saya yang kurang tepat.

Dan sebelum mengakhiri kelasnya waktu itu, Mbak Hanny memberi pesan yang sangat bagus menurut saya yang kurang lebih berbunyi, “Tulisan yang bagus adalah tulisan yang selesai (yang di-published). Jika alur cerita dan tata bahasanya bagus tapi cuma berada di dalam draft, ya tulisan itu bisa dikatakan belum bagus.”

Selamat mencoba ya dan tentukanlah metode yang paling nyaman untuk kalian 🙂

Writing the perfect paper is a lot like a military operation. It takes discipline, foresight, research, strategy, and, if done right, ends in total victory. 
–Ryan Holiday

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.