Daftar Tempat Wisata di Palembang yang Wajib Kalian Kunjungi (Bagian 1)

Ada sesuatu yang kurang rasanya kalau berkunjung ke Palembang tapi hanya untuk wisata kuliner. Memang sih kulineran itu aktivitas utama yang wajib kalian lakukan ketika tiba di Palembang, tapi ada juga lho beberapa tempat wisata di Palembang yang juga bisa kalian kunjungi. Tempat wisata di Palembang ini umumnya sarat akan sejarah dan saya jamin akan menambah pengetahuan kalian bila kalian mengunjungi dan menikmati kunjungan kalian ke sana.

Tanpa berlama-lama lagi, berikut ini beberapa tempat wisata di Palembang yang bisa kalian kunjungi, lengkap dengan urutannya agar semakin mempermudah langkah kalian untuk mengunjunginya satu per satu:

Jembatan Ampera

Tempat wisata di Palembang: Jembatan Ampera



Jembatan Ampera dengan jalur MRT di sebelahnya

Tempat wisata di Palembang yang bisa kalian kunjungi pertama kali, apalagi kalau bukan Jembatan Ampera yang sangat ikonik. Ampera sendiri merupakan singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat. Jadi awalnya jembatan ini dibangun dengan nama Jembatan Bung Karno (diresmikan tahun 1965). Namun pada tahun 1966, terjadi pergolakan di negeri ini dan muncul benyak gerakan anti-Soekarno. Alhasil, jembatan berwarna merah yang membentang di atas Sungai Musi dan menghubungkan wilayah Seberang Ilir dan Seberang Hulu ini pun diubah namanya menjadi Jembatan Ampera yang bertahan hingga sekarang.

Jangan Lupa Ambil Foto dengan Latar Belakang ini ya

Pemandangan dari Sudut Lainnya

Untuk bisa mengunjungi Jembatan Ampera, terdapat beberapa moda trasnportasi yang bisa kalian pilih seperti ojek online, penyewaan motor dan atau mobil, juga angkutan umum. Namun saya menyarankan menggunakan MRT. Buat kalian yang belum tahu, MRT di Palembang ini tepat dibangun di samping Jembatan Ampera lho. Jadi saat naik MRT, kalian bisa merasakan serunya melewati jembatan megah ini dan menikmati pemandangan Sungai Musi.

Untuk kalian yang ingin mengabadikan momen di Jembatan Ampera, kalian tidak perlu khawatir. Tersedia trotoar yang bisa kalian gunakan untuk berjalan kaki sekaligus berfoto. Jangan lupa mengambil gambar dengan latar tulisan “Ampera” dan jam analognya ya šŸ™‚

Tiket Masuk: Gratis

Museum Sultan Mahmud Badaruddin 2

Tempat wisata di Palembang: Museum SMB 2

Jembatan Ampera memang titik sentral untuk memulai perjalanan dan tempat wisata di Palembang berikutnya, Museum Sultan Mahmud Baddarudin 2, letaknya tidak jauh dari Jembatan Ampera. Dari jembatan kebanggan masyarakat Palembang ini, kalian hanya perlu berjalan kaki kurang dari 5 menit menuju ke museum ini. Untuk kalian yang ingin bermain di Jembatan Ampera dengan kendaraan sewaan, biasanya kendaraan kalian akan diletakkan di area parkir yang terletak di depan museum ini.

Dari bagian depan, museum 2 lantai ini sudah terlihat sangat gagah dengan perpaduan antara arsitektur Eropa dan Indonesia. Bagian Eropa terlihat jelas dari tangga di depannya yang melengkung serta badan museumnya, sedangkan bagian Indonesianya itu terlihat dari atapnya yang berbentuk seperti atap rumah limas.

Museum ini diberi nama sama seperti gelar yang diberikan kepada Raden Hasan Pangeran Ratu untuk menghormati dan mengingat jasa-jasanya saat berupaya mengusir Belanda dari Sumatera Selatan yang berakhir dengan diasingkannyabeliau ke Ternate.

Salah satu bagian dalam Museum. Pic via INI

Di dalam Museum Sultan Mahmud Badaruddin 2 ini tersimpan banyak sekali benda-benda bersejarah seperti arca-arca kuno, perabotan-perabotan yang digunakan oleh sultan di jaman kesultanan dulu, silsilah raja atau sultan di Palembang, Foto Sultan dan masih banyak lagi. Letak museum ini persis di pinggir sungai musi dan menghadap ke arah sungai. Dari Museum ini, Jembatan Ampera pun terlihat sangat jelas.

Yang perlu kalian perhatikan adalah jam buka museum ini. Untuk Selasa-Jumat, museum buka pukul 08:00 – 16:00 WIB, sedangkan untuk weekend,Ā museum ini buka pukul 09:00-15:00 WIB dan tutup pada hari Senin.

Tiket Masuk: Dewasa Rp 5.000/orang, Anak-anak Rp 1.000/orang, Wisman Rp 15.000/orang

Pulau Kemaro

Speed untuk menuju Pulau Kemaro dari dekat Jembatan Ampera

Dermaga di Pulau Kemaro

KFC Point tempat meyeberang dengan speed

Dari Museum Sultan Mahmud Badaruddin 2, mari berlanjut ke tempat wisata di Palembang selanjutnya yang sedikit agak jauh, Pulau Kemaro namanya. Pulau Kemaro adalah sebuah pulau yang tidak terlalu besar, yang berlokasi di tengah Sungai Musi (Delta Sungai Musi). Untuk menuju ke Pulau Kemaro ini, kalian bisa menggunakan speedĀ atau perahu bermesin dari pinggir Sungai Musi, lebih tepatnya dekat KFC, yang juga tidak jauh dari museum, dengan biaya Rp 200.000/speed.

Lama waktu tempuh menuju Pulau Kemaro kurang lebih 20-30 menit, tergantung dari kecepatanĀ speedĀ yang digunakan, dan keseruan sudah langsung dimulai saatĀ speedĀ dinyalakan. Melaju di atasĀ speedĀ yang bisa mengangkut 8-9 orang dan membelah Sungai Musi merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan. Pemukiman warga dan Pabrik Pupuk Sriwijaya akan menghiasai pemandangan di kir dan kanan perjalanan.


Klenteng Dewi Kuan Im

Pagoda dengan 9 lantai

Setibanya di Pulau Kemaro, Kalian akan menjumpai sebuah Klenteng Dewi Kwan Im atau yang biasa juga dikenal dengan nama Klenteng Hok Tjiong Rio yang sudah ada sejak tahun 1962. Di atas pulau ini juga kalian bisa menyaksikan keindahan Pagoda 9 lantai yang lokasinya berada di belakang klenteng. Untuk mengetahui kisah dibalik Pulau Kemaro, silakan baca DI SINI ya.

Oh iya, selama mengunjungi Pulau Kemaro,Ā speedĀ akan menunggu kalian di dermaga untuk mengantar kalian pulang kembali ya. Jadi Rp 200.000 itu biaya untuk pulang pergi.

Tiket Masuk: Gratis

Jam Buka: Setiap hari dari Pukul 09:00 – 17:00 WIB

Kampung Arab Al Munawar

Kampung Arab Al Munawar

Mushola di Al Munawar

Rumah Kembar Laut

Beralih ke tempat wisata di Palembang selanjutnya, kalian bisa menuju ke Kampung Al Munawar. Kalau tadi Pulau Kemaro kental dengan nuansa Cina-nya, Kampung Al Munawar ini kental sekali dengan nuansa Arabnya. Maklum saja, kampung ini memang dihuni oleh mereka yang merupakan keturunan Arab. Hal tersebut nampak jelas dari wajah-wajah orang yang mendiami pulau ini.

Bangunan-bangunan di kampung ini 80% masih bangunan tua yang dipertahankan arsitekturnya dan jalan yang menjadi pemisah antar rumah atau bangunan pun sangat kecil. Terdapat sebuah lapangan di kampung ini yang menjadi titik sentral dari kampung ini. Selama di sini kalian bisa melihat bangunan dengan nama-nama dan bentuk yang jaman dahulu banget seperti Rumah Kembar Laut, Rumah Tinggi, Rumah Kaca, Rumah Kembar Darat, Rumah Darat, Rumah Batu, dan beberapa rumah lainnya yang kaya akan sejarah. Rumah-rumah di Kampung Arab Al Munawar ini rata-rata memiliki sentuhan warna biru pada beberapa sisinya.


Jalan di Kampung Arab

Salah Satu Rumah di Kampung Arab

Rumah Kaca

Rumah Kembar Darat

Sayangnya, warga di sini sepertinya tidak terlalu “ramah” dengan pengunjung. Mereka terlihat tidak terlalu antusias dengan kehadiran wisatawan di tempat ini. Andai saja orang-orang di sana mau “bermain” bersama dengan para wisatawan, tempat ini pasti ramai dan bisa berdampak pada pemasukan kas kampung ini. Dan yang perlu diperhatikan lagi, buat kalian yang ingin berkunjung ke sini, gunakan pakaian yang sopan ya (Jangan pakaian yang terlalu terbuka).

Untuk menuju ke Kampung Arab Al Munawar ini, kalian bisa menggunakan speed dari Pulau Kemaro tadi. Jadi dari Pulau Kemaro, jangan langsung kembali ke titik awal ya. Mintalah untuk diantar ke Kampung Arab Al Munawar. Setelah tiba, kalian bebas untuk meminta, apakah ingin ditunggu atau membiarkanĀ speedĀ itu kembali ke peraduannya. Kalau saya sih lebih memilih untuk membiarkanĀ speedĀ pulang dan melanjutkan perjalanan ke tempat wisata di Palembang selanjutnya dengan ojol (OjekĀ Online).

Tiket Masuk: Rp 3.000/orang

Jam Buka: Sabtu – Kamis dari pukul 8:30 ā€“ 17:00 WIB (Jumat Tutup)

Klenteng Candra Nadi Soei Goeat Kiong (Dewi Kwan Im)

Klenteng Dewi Kwan Im

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, untuk menuju ke Klenteng Candra Nadi Soei Goeat Kiong atau yang mudah dikenal dengan nama Klenteng Dewi Kwan Im sebagai tempat wisata di Palembang selanjutnya yang bisa kalian kunjungi, saya lebih memilih untuk menggunakan ojol. Sebenarnya bisa saja sih berjalan kaki karena jarak yang memisahkan keduanya hanya 1 km, namun panas yang menyengat di Palembang membuat saya lebih memilih mengeluarkan uang ekstra dibanding tenaga ekstra.

Klenteng Dewi Kwan Im ini berlokasi dekat dengan Pasar 10 Ulu. Jad jangan bingung ya kalau jalan menuju ke tempat ini agak padat. Salah satu yang membuat saya suka dengan klenteng ini adalah parkirannya luas sekali, 10 mobil pun bisa ditampung di sini. Klenteng dengan warna dominan merah yang melambangkan kemakmuran ini merupakan klenteng tertua di Palembang yang sudah berusia kurang lebih 246 tahun (ketika tulisan ini dirilis).

Seorang Pemuda terlihat sedang mengabadikan gambar Klenteng

Mari sedikit diperbesar lagi gambar Klentengnya

Yang membuat klenteng ini spesial adalah terdapat makam di dalam klenteng yang merupakan makam dari seorang panglima beragama Islam. Saya sendiri kurang tahu apa yang melatarbelakangi ditempatkannya makam seorang muslim di tengah klenteng yang menjadi tempat beribadah agama Buddha. Tapi 1 yang saya lihat bahwa pluralisme dan keberagaman di Palembang ini benar-benar nyata dan berlangsung harmonis.

Sayangnya, tidak sembarang waktu bisa masuk ke dalam Klenteng ini. Seperti saya waktu berkunjung ke sini, hanya bisa meihat keindahannya dari luar. Bila ingin “seru” datanglah ke tempat ini saat malam sebelum imlek, saat imlek dan juga cap go meh, maka kalian bisa berkeliling rumah ibadah ini (dengan catatan tidak mengganggu mereka yang ingin beribadah).

Tiket Masuk: Gratis

Tugu Belido dan Benteng Kuto Besak

Tugu Belido

Tugu Belido yang menghadap ke Sungai Musi

Tempat warga Palembang berkumpul

Konon kabarnya, pempek yang paling enak itu berbahan dasar dari ikan belido, ikan air tawar yang memang salah satu habitatnya adalah di Sumatera Selatan. Namun karena mutu sungai yang kian menurun dan beberapa alasan lainnya yang menyebabkan kelangkaan ikan ini, maka pempek palembang sekarang umumnya berbahan ikan tenggiri. Dan untuk “menghormati” ikan ini yang juga merupakan salah satu ikon Palembang, dibangunlah sebuah Tugu Belido yang letaknya di pinggir Sungai Musi, tidak jauh dari Museum Sultan Mahmud Badaruddin 2 dan juga KFC yang menjadi tempat untuk naik speedĀ menuju Pulau Kemaro.

Tinggi Patung ini kurang lebih 12 meter dengan panjang 22 meter dan menghadap ke sungai musi yang menjadi tempat mereka hidup. Lokasi dimana patung ini berada biasa dijadikan oleh warga sekitar sebagai tempat untuk menghabiskan sore. Warga akan ramai berkumpul dan bermain bersama di sekitar patung ini. Terdapat pula beberapa penjual makanan yang bisa kalian jumpai. Kalau boleh dibandingkan, patung ini mirip dengan Merlionnya Singapura yang ikonik itu. Dari lokasi Tugu Belido ini, nampak pula Jembatan Ampera yang melintang dengan gagah.

Gerbang Masuk Benteng Kuto Besak

Besarnya wilayah Benteng Kuto Besak

Tepat di belakang Tugu Belido ini terdapat sebuah kawasan luas yang dulu digunakan sebagai keratonnya Sultan Palembang, atau yang lebih dikenal dengan nama Benteng Kuto Besak. Benteng ini dulunya merupakan salah satu benteng terbesar yang menjadi saksi perlawanan Palembang terhadap Belanda. Tembok-tembok yang mengelilingi area bangunan di dalamnya cukup tinggi menjulang dan kokoh.

Saya sih waktu itu tidak masuk ke dalamnya dan hanya berfoto di bagian depan gerbangnya yang cukup besar. Aura perjuangan di Benteng ini sangat besar. Sepertinya sekarang kawasan Benteng Kuto Besak ini diambi alih oleh Angkatan Darat, hal itu terlihat dari seragam para penjaga yang melakukan penjagaan di bagian gerbang dan juga bangunan utama yang nampak dari luar, persis setelah gerbang masuknya.

Tiket Masuk: Gratis (Untuk Tugu Belido).

*****

Itu tadi beberapa tepat wisata di Palembang yang bisa kalian kunjungi, lengkap dengan urutannya. Masih ada beberapa tempat seru lainnya yang bisa kalian kunjungi, namun saya akan membuatnya dipostingan terpisah agar tulisan ini tidak terlalu panjang.

Tunggu postingan selanjutnya ya agar lengkap informasi tempat-tempat wisata di Palembang yang bisa kalian sambangi šŸ™‚

Our greatest glory is not in never falling, but in rising every time we fall.Ā 
–Confucious

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.