Tersihir Eksotisme Pulau Bair

“Kepingan keindahan yang Tuhan letakkan di Maluku Tenggara itu bernama Pulau Bair. Dalam bahasa lokal, Baer artinya tidak terlihat. Namun kini kecantikannya mulai jelas terlihat dan mulai diperbincangkan banyak orang sebagai salah satu destinasi impian.”

Pagi yang ditunggu itu pun akhirnya datang. Saat aku membuka pintu penginapan, jalanan masih kosong dan gelap, bahkan pohon-pohon kelapa yang ada di depan penginapan Villa Monica tempat saya menginap masih terlihat mengantuk dan belum siap untuk memulai hari yang baru ini. Aku pun kembali ke dalam dan menuju ke meja makan sebab sarapan sudah tersedia, Mama Tita yang menyediakannya. Beberapa teman perjalanan saya pun menyusul kemudian, setelah mereka selesai mempersiapkan “senjata perang” untuk perjalanan hari itu.

Pulau Bair, ya, pulau yang berada di utara kota Tual, Maluku Tenggara, inilah yang akan kami tuju. Pulau dengan sejuta pesona yang keindahannya tak diragukan lagi dan sudah tersebar dari mulut setiap pejalan yang mampir ke surga ini. Bahkan saking indahnya, orang-orang akan dengan mudah mengenali lokasi ini hanya dari melihat gambarnya saja.

Suara klakson mobil dari luar penginapan mengagetkan kami yang masih bersenda gurau pasca sarapan. Mobil dan supir yang kami sewa rupanya sudah datang. Bunyi itu pun menjadi tanda kalau kami sudah harus bergegas memindahkan barang-barang keperluan kami ke dalam mobil dan berangkat menuju Dula, tempat dimana kami akan bertolak ke Pulau Bair dengan menggunakan perahu motor.

Perjalanan ke Dula

Jembatan Usdek

Laju mobil perlahan membelah Jalan Pasir Panjang. Suasana begitu tenang pagi itu dan aktivitas warga juga belum mulai terlihat. Lampu-lampu jalan nampak masih menyala. Matahari pun masih malu-malu untuk muncul secara utuh, saya rasa sebenarnya ia pun masih ingin terlelap dalam tidurnya, hanya saja kewajiban menyinari Pulau Kei harus ia tunaikan.

Tak terasa, mobil yang kami tumpangi sudah melaju sampai di Langgur. Itu tandanya kami sudah setengah jalan menuju Dula. Langgur ini adalah ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Sebelum resmi menjadi daerah otonom, ibu kota kabupaten Maluku Tenggara adalah Tual, tapi kini gelar itu sudah pindah ke Langgur.

Dari Langgur kami melewati Jembatan Usdek ke arah Tual, sebelum akhirnya melewati daerah pesisir menuju Dula. Selama perjalanan menuju Dula, kami melawan rasa ngantuk kami. Kami tak ingin melewatkan pemandangan laut Dula yang begitu memesona. Sayang rasanya kalau harus tertidur di tengah perjalanan yang menawarkan pemandangan super cantik.

Jembatan yang menjadi batas antara kabupaten dan kota

Pemandangan pesisir Dula yang terlalu sayang untuk dilewatkan

Di samping sebuah warung yang terletak di pinggir pantai Dula, mobil kami berhenti dan sang supir mempersilakan kami turun. Tepat di depan mobil kami, kira-kira 200 meter, terlihat sebuah perahu motor yang sedang diisi bahan bakarnya. 2 orang Dula yang melihat kami pun langsung menghampiri, merekalah yang akan menjadi nahkoda kami dan kapal yang sedang diisi bahan bakar itulah yang akan membawa kami ke Bair

Menuju Pulau Bair

Satu per satu dari kami naik ke atasnya. Saat mesin dinyalakan dan perlahan dijalankan, suara mesinnya langsung memecah keheningan dan lajunya membelah birunya lautan. Secara bergantian, tiap orang duduk sendiri di bagian depan kapal dengan memandang ke depan dan seorang lainnya dari kami mengambil gambarnya dari belakang, tak lupa sisanya menjaga stabilitas kapal denga duduk secara seimbang di bagian kiri dan kanan perahu. Begitu terus secara bergantian hingga semua kebagian giliran. Sulit rasanya tidak mengabadikan momen tersebut. So Instargamable, kalau kata anak jaman sekarang.

Perahu motor yang kami gunakan untuk ke Pulau Bair

Pose wajib. Duduk di ujung perahu

Perahu motor yang kami naiki kerap berayun akibat ombak kecil yang datang. Buih-buih ombak yang terbentuk sesekali naik ke atas kapal dan menyentuh wajah kami. Kesal namun menyenangkan. Wajah jadi sedikit asin karenanya. Sebuah pulau yang ada di depan kami, yang tadinya hanya terlihat kecil, kini semakin membesar. Dari warna hijau tosca yang berada di pulau tersebut saya sudah tahu kalau ini adalah Pulau Bair.

Tak lama berselang, kami semakin mendekati Pulau itu. Sebuah tulisan di atas batu karang bertuliskan Pulau Baer semakin mempertegas kalau iniliah pulau cantik itu, salah satu pulau yang paling diidam-idamkan oleh para traveler.

“Jadi kita mau menjelajah dari mana dulu?” Tanya sang nahkoda memecah lamunan kami akan keindahan Pulau Bair ini.

“Bung atur saja. Apa kata bung kami ikut. Bung lebih tahu tentang pulau ini.” Jawab saya.

“Okay, kita mulai dari yang belakang dulu ya baru nanti kita kembali lagi ke sini.” perintahnya.

“Kemanapun kau membawa kami, kami yakin pasti perjalanan ini akan menakjubkan.” Ucap saya dalam hati.

Explore Pulau Bair

Pulau Bair

Kapal mulai berjalan ke arah belakang, melewati sebuah dermaga kayu sederhana yang biasa menjadi salah satu tempat berfoto bagi mereka yang mampir ke Pulau Bair, letaknya tidak jauh dari tulisan Pulau Baer tadi. Pemandangan di kiri dan kanan kapal sungguh memesona, karang-karang tinggi besar dengan pohon-pohon kecil di atasnya menemani perjalanan kami. sepanjang perjalanan saya berdecak kagum atas keindahannya.

Kami datang saat kondisi air sedikit surut. Dasar lautnya yang berpasir terlihat jelas akibat airnya yang jernih, ditambah sinar matahari yang menyentuhnya membuat air yang hijau tosca itu memantulkan sinar beberapa kali. Kapal berjalan santai, sepertinya nahkoda memang  membiarkan kami menyesap segarnya udara di sini dan menikmati panorama indah Pulau Bair.

15 menit setelah melewati dermaga dan perahu motor berjalan ke arah belakang pulau, kami tiba di satu sudut Pulau Bair dengan jalur yang semakin mengecil. Hal tersebut membuat kapal harus berhenti di depan jalur tersebut.

Spot Lagoon

berpose sambil menunggu saya kembali dari lagoon

“Ada semacam lagoon di balik karang besar ini. Ikuti saja jalur kecil ini dan kalian akan tiba di sana.”  Begitu ucap si nahkoda usai melempar jangkar ke air. “Kalian harus berenang untuk menuju ke sana.”

Tertarik dengan ucapan si nahkoda, saya pun langsung mengambil fins dan google lalu berenang menuju lagoon. Para wanita tidak tertarik untuk menuju ke lagoon tersebut dan lebih memilih untuk berfoto di atas kapal dengan panorama karang disekeliling yang memang memukau. Dengan ditemani sang nahkoda saya berenang menuju lagoon tersebut.

Sesampainya di sana, tempatnya memang luar biasa memukau. Kalau dilihat dari atas, lagoon ini bentuknya melingkar. Begitu tenang, tak ada suara apapun kecuali air yang sesekali bergoyang dan menabrak karang.

“Jarang orang Indonesia yang mau ke sini memang. Umumnya bule yang pada betah main dan berlama-lama di sini.” Ujar si nahkoda.

Kami tidak lama berada di sana dan langsung kembali ke kapal untuk bertemu teman-teman yang lain. Tidak enak rasanya hanya menikmati tempat cantik itu seorang diri. Dari Lagoon tersebut kami berangkat menuju ke suatu spot bernama Lorong Mati Rasa. Tidak tahu kenapa tempat itu diberi nama seperti itu. Rupanya tidak berbeda dari lorong menuju lagoon, hanya saja kali ini perahu motor kami muat untuk masuk ke dalam lorong tersebut. Di sanalah kami berhenti dan berfoto.

Seperti biasa, para wanita saling bergiliran untuk berpose di ujung kapal. Diapit dengan karang-karang kokoh dan air yang begitu hijau membuat hasil foto mereka terlihat begitu cantik. Puas bergaya di spot tersebut, kami pun berlalu menuju kembali ke dermaga, karena disanalah memang main stage-nya.

Lorong Mati Rasa

Dermaga yang tadi kami bicarakan

Saat tiba di dermaga, seekor burung pelikan terlihat sedang asyik berjemur di atasnya. Namun karena melihat kedatangan kami, ia pun langsung terbang dan pergi. Kami bermain di atas dermaga dengan bebasnya. Foto-foto, berjemur, berlarian dan mengekspresikan diri kami sebebas-bebasnya di sana.

Di sebelah dermaga, terdapat sebuah tebing yang bisa dipanjat. Kami mengetahui itu dari sang nahkoda. Tak ingin menyia-nyiakannya, saya dan teman-teman pun langsung berkumpul dan bersama-sama memanjat tebing yang cukup tinggi itu.Butuh sekitar 10 menit untuk memanjatnya. Namun setibanya di atas, pemandangan indah sudah menanti kami. Perjuangan memanjat tadi menjadi tidak ada apa-apanya dibandingkan keindahan yang ditawarkan. Pulau Bair terlihat cukup jelas dari atas sini dan airnya terlihat semakin tosca dan menarik. Sekali lagi, kami tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mendokumentasikannya.

Tak terasa sudah 3,5 jam kami bermain di Pulau Bair dan itulah spot terakhir kami di Pulau tersebut.

Santai di dekat dermaga

Salah satu danau yang ada di Pulau Bair

Pemandangan Pulau Bair dari atas Tebing karang

Pulau Adranan

Dari Pulau Bair, perahu motor melaju kembali ke arah Dula, titik awal tempat kami berangkat. Namun bukan kembali ke Dula, perahu tiba-tiba saja diarahkan ke sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang ada sebelum Dula. Dari kejauhan, hanya pepohonan di atasnya yang terlihat menarik, namun semaikn dekat, warna pasir putih yang ada di pulau tersebut berkilauan bak kristal akibat disinari sang mentari.

Airnya yang biru, lebih biru dibandingkan di Pulau Bair, begitu memukau dan membuat kami ingin cepat sampai di sana. Kapal motor pun akhirnya perlahan mulai mengurangi kecepatannya, sebelum akhirnya sang nahkoda mematikan mesinnya dan menambatkan kapalnya di salah satu sisi pulau. Saya dan teman-teman pun diminta untuk turun.

Pulau Adranan

Wonderful Adranan

“Kita Makan siang di sini ya. Setelah itu baru kita kembali ke Dula.” Kata si nahkoda.

Pulaunya tidak begitu besar, dalam 15 menit kami pun mampu mengelilinginya. Dengan cepat kami melebarkan kain dan makan siang di bawah pepohonan yang ada di pulau yang kami ketahui namanya adalah Pulau Adranan. Kami makan cepat bukan karena kami lapar, namun karena kami ingin segera bermain di pulau ini. Pulau yang begitu memikat ini terlalu sayang kalau hanya dipakai untuk makan siang. Keindahannya terlalu sayang untuk tidak diabadikan.

Drone pun saya terbangkan untuk bisa menikmati pulau ini secara utuh. Dari atas, garis pantai Pulau Adranan nampak sangat menawan. Gradasi warna air lautnya begitu terlihat. Di 3 meter pertama, air laut yang biru berpadu dengan warna pasir putih membentuk warna biru muda. Di 5 meter selanjutnya, warnanya menjadi biru gelap karena kedalamannya bertambah. Lukisan alam itu semakin sempurna kala matahari menyinarinya tanpa ada halangan apapun.

Gradasi yang muncul bak kristal

wonderful Adranan

Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Kami pun harus kembali menuju daratan Kei Kecil. Lambaian tangan menjadi perpisahan kami kepada Pulau Adaranan dan kami langsung kembali menuju Dula.

Itulah akhir perjalanan kami menjelajahi Pulau Bair dengan bonus Pulau Adranan. Sebuah perjalanan yang tidak akan terlupakan. Keindahan Pulau Bair begitu menyihir dan menghipnotis kami. Semoga ada kesempatan lagi untuk kembali.

If the path be beautiful, let us not ask where it leads.
–Anatole France

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.