Perjuangan Menikmati Indahnya Pantai Ngurtavur

Pantai Ngurtavur – Pagi-pagi benar, saya sudah terbangun dari tidur yang cukup lelap. Dari kasur yang masih terlalu nyaman untuk ditinggali itu, saya bergegas keluar kamar dengan langkah kaki yang masih berat dan dengan perlahan menuju ke pintu utama penginapan untuk keluar. Saya ingat betul, hanya suara pohon yang daunnya saling bergesekan karena tertiup anginlah yang menyapa saat saya keluar penginapan di Desa Ngilngof, Kei Kecil, Maluku Tenggara. Sang surya bahkan belum terbangun dari tidurnya dan burung-burung pun masih terlalu malas untuk keluar dari sarangnya.

Sebenarnya saya bukanlah orang yang terbiasa untuk bangun pagi sekali, namun karena mau mengunjungi Pantai Ngurtavur, mau tidak mau saya harus memaksakan diri untuk bangun jam 05:00 WIT. Adalah seorang nelayan setempat, yang tinggal di dekat Pantai Ngilngof, yang meminta saya untuk berangkat pagi-pagi, sekitar pukul 06:30 WIT, apabila ingin melihat pesona terbaik Pantai Ngurtavur. Kepada nelayan itu pula saya menyewa kapal untuk menuju ke pantai yang keindahannya sudah tersebar ke seantero Maluku, bahkan Indonesia.

Tak lama menghirup udara pagi yang masih segar di luar penginapan, saya pun kembali ke dalam dengan tujuan untuk membangunkan teman-teman yang lain. Namun ketika saya tiba di dalam penginapan, ternyata semua sudah siap untuk berangkat, barang-barang untuk perang seperti kamera dan baju ganti pun sudah terbungkus rapi di dalam dry bag. Mereka sudah duduk manis di meja makan panjang yang berada di depan dapur dengan posisi sambil mengoleskan selai ke atas roti dan pisang goreng pun sudah tersaji & siap untuk disantap. Jadilah saya sendirian sebagai orang terakhir yang merapikan peralatan perang dan menghabiskan sarapan.



Villa Monica

Sarapan di penginapan

Kurang lebih seperti inilah jalan di depan penginapan

Jalan Kaki ke Pantai Ngilngof

Untuk menuju ke Pantai Ngurtavur, saya dan rombongan harus naik perahu mesin dari Pantai Ngilngof. Jarak antara Pantai Ngilngof dan penginapan Villa Monica yang hanya 1 km membuat kami memutuskan untuk berjalan kaki. Rupanya jalan kaki sejauh 1 km dengan kondisi udara yang dingin dan angin yang bertiup kencang di pagi hari bukanlah hal yang mudah. Apalagi kami harus membawa beberapa barang bawaan yang berat, seperti perbekalan makan siang, air minum kemasan 1 dus dan juga beberapa perintilan menyelam.

Untung saja pagi itu hal baik menghampiri kami. Tuhan mengirimkan seorang penolong yang tidak kami kenal namanya. Saat kami sedang berjalan, sebuah mobil yang sedang asyik melaju di atas jalan aspal Desa Ngilngof tiba-tiba menurunkan kecepatannya. Melihat kami berjalan kaki dengan beberapa barang bawaan yang terlihat merepotkan, ia pun berhenti di samping kanan kami dan menawarkan bantuan untuk mengangkut kami menuju Pantai Ngilngof. Kebetulan pantai itu pun dilaluinya untuk mencapai tujuannya.

Dengan tanpa ragu kami mengiyakan tawaran itu. Satu per satu dari kami naik secara teratur dan mobil pun membelah sepinya Desa Ngilngof pagi itu. Di perjalanan, warna oranye pelan-pelan terlihat menggantikan warna hitam gelap di langit. Matahari rupanya sudah mulai terbangun dan bersiap untuk kembali bertugas. Kurang dari 10 menit mobil melaju, kami pun tiba di Pantai Ngilngof. Dari pria yang baik hati di balik kemudi mobil, kami beralih pada seorang anak muda yang kapalnya kami sewa untuk berangkat ke Pantai Ngurtavur. Tak lupa kami mengucapkan terima kasih atas kebaikan sang pengendara mobil itu.

Jarak Penginapan ke Pantai Ngilngof

Halaman dari penginapanku. Dari sinilah kami mulai jalan

Perjalanan Pantai Ngilngof – Pantai Ngurtavur

Wajah anak muda itu terlihat sumringah saat melihat kami datang. Segera ia menyuruh kami untuk naik ke perahu bermesin 2 yang telah ia siapkan. Rupanya cobaan untuk menuju Pantai Ngurtavur sudah datang sejak awal berangkat dari penginapan Villa Monica. Kalau dicobaan pertama saat harus berjalan kaki tadi ada seorang penolong, dicobaan kedua ini kami harus menghadapinya sendiri.

Jadi perahu yang harus kami naiki ini jaraknya agak menjorok jauh ke laut. Perahu itu sengaja diletakkan di sana sebab anak muda yang juga berprofesi sebagai nelayan itu tahu kalau setiap pagi air pasti surut. Akibatnya, kami harus berjalan kaki ke perahu tersebut dengan melewati pasir pantai yang masih basah dan lembek.

Canda tawa pun mengiringi perjalanan kami ke perahu. Baru 2x melangkah, kaki saya sudah terjerembab ke dalam tanah yang empuk. Ingin mencabut kaki tersebut dengan bantuan tangan, namun tangan ini penuh dengan barang bawaan, jadilah saya harus dibantu yang lain. Ada juga yang kakinya berhasil melangkah, namun sandalnya tertinggal di dalam tanah karena kakinya masuk terlalu dalam.

Langkah yang kami lakukan pun harus hati-hati, sebab ada beberapa bintang laut yang terbaring menyebar di atas tanah yang kami lalui. Jika salah melangkah, habis sudah nyawa bintang laut tersebut. Beberapa kepiting pun terlihat berlalu lalang menemani kami yang berusaha dengan susah payah menuju perahu. Dengan cepatnya kepiting-kepiting yang sudah mau terinjak menghindari langkah kaki kami.

Akhirnya, pelan namun pasti, kami semua sudah pindah dari bibir pantai ke atas perahu. Sang nelayan yang sudah terlebih dahulu sampai di atas perahu pun langsung menyalakan mesin dan bergegas mengarahkan tunggangannya itu menuju Pantai Ngurtavur. Lama perjalanan menuju Pantai Ngurtavur dari Pantai Ngilngof kurang lebih 1 jam.


Perjalanan dari pinggir Pantai Ngikngof menuju perahu mesin

Jauh juga ya

Akhirnya sampai di perahu mesin

Siap menuju Pantai Ngurtavur

Tiba di pantai Ngurtavur

Menikmati Pantai Ngurtavur

Satu jam melaju, perahu pun bersandar di pantai yang kami tunggu-tungu sedari malam. Kami harus sedikit kecewa sebab kami tidak bisa melihat kecantikan Pantai Ngurtavur dengan sempurna. Langit yang sudah berangsur-angsur terang harus kembali gelap dan awan tebal menutupi matahari. Rintik-rintik perlahan turun dari langit dan menyentuh kepala kami, lalu membasahi seluruh badan kami.

Bukan air hujan yang kami takuti di sini, karena kami datang pun untuk bermain air. Namun bila hujan, kami tidak bisa mendapat foto yang maksimal. Maklum saja, generasi milenial. Repotnya lagi, kalau hujan deras terjadi di Ngurtavur, adalah tidak adanya tempat untuk berlindung dan mengamankan barang bawaan. Pantai Ngurtavur itu isinya hanya pasir saja, tidak ada pepohonan. Kalau diibaratkan, pantai ini ya seperti Pulau Gosong yang tidak ada apa-apanya, yang akan terendam saat air pasang dan menyembul saat air surut.

Untungnya gerimis itu turun tidak sampai 5 menit. Sempat agak deras tapi langsung berhenti. Tuhan memang baik, Dia tahu kalau kami ingin menikmati alam yang satu ini. Awan gelap itu pun Ia geser ke tempat yang lain bersamaan dengan rintik hujannya. Langit kembali cerah dan matahari nampak tersenyum dan mengeluarkan sinar terbaiknya.


Cahaya matahari itu pun turun dan menghujam langsung ke atas pasir Pantai Ngurtavur, membuat butiran-butiran pasirnya terlihat berkilauan. Dengan cepat kami berlari-larian di atas pantai kosong ini. Ada yang lanjut dengan langsung bermain air, ada juga yang sibuk dengan kameranya. Entah mengapa pantai yang tidak ada apa-apanya ini cantk sekali, seperti ada daya magis yang mengendalikan otak ini dan membuat kami otomatis menyukai tempat ini.

Bersih ya

Walk by faith not by sight

Mau main air di Pantai Ngurtavur?

Tempat kapal kami bersandar

Putih, kosong, dan panjang. Itulah Pantai Ngurtavur

Cantik, kan?

Kata nelayan yang mengantarkan kami, jika berkunjung ke sini pada saat bulan Oktober, kemungkinan kami bisa bertemu dengan rombongan pelikan yang memang suka mampir ke sini. Jumlahnya bisa puluhan ekor. Saat saya tiba pun sebenarnya saya melihat jejak kaki pelikan di atas pasir ini, namun jumlahnya hanya satu, tidak semasif yang diceritakan nelayan yang mengantar kami.

Saat beberapa teman-teman yang lain asyik bermain air dan pasir di pantai yang cukup panjang ini, saya berjalan ke arah yang berlawanan. Tempat yang kosong ini begitu asyik untuk dipakai berkontemplasi. Terkadang cara terbaik untuk menikmati indahnya pantai adalah dengan duduk diam di atas pasir, memandanginya, membiarkan angin membelai tubuh dan wajah ini, dan bersyukur kepada sang Tuhan. Selama beberapa menit saya terdiam di ujung pantai ini. Cukup menyenangkan bisa melakukannya. Barulah setelah itu saya bergabung bersama teman-teman yang lain untuk bermain air.

Sebenarnya di pulau ini ada yang suka berjualan kelapa, sayangnya kami datang terlalu pagi sehingga penjual kelapa tersebut belum tiba. Pasti nikmat banget bisa menyeruput air kelapa di tengah terjangan panas dari sang mentari. Selama kurang lebih 2 jam kami bermain di pantai ini. Lama banget ya? Ya begitulah kalau orang kota yang biasa berjumpa dengan aspal dan knalpot motor bertemu dengan pantai cantik, bawaannya ingin berlama-lama.

Selain pantainya, langit dan awannya cantik juga lho

Take your best friend with you and have some fun together

Santai kayak di pantai

Siapa yang bisa menolak untuk bermain di air yang jernih ini?

Let’s floating

Bisakah kalian melihat kami?

Namun kebersamaan dengan pantai yang pasirnya cukup halus dan biru lautnya yang memesona harus segera berakhir. Sebelum meninggalkan pantai ini dan beranjak ke spot selanjutnya, saya dan teman-teman pun foto bersama dengan latar pantai ini. Suara mesin perahu dan lambaian tangan menjadi tanda dan cara kami mengucapkan terima kasih kepada pantai yang dalam Bahasa Indonesia memiliki arti Pantai Pasir Timbul.

Sampai jumpa lagi. Semoga masih ada waktu dan kesempatan untuk kembali ke Ngurtavur. Teruslah cantik dan indah seperti ini ya 🙂

The beach is definitely where I feel most at home. It’s my oxygen. I forget how much I need it sometimes when I’m away working.
–Behati Prinslo

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.