Daftar Tempat Wisata di Palembang yang Wajib Kalian Kunjungi (Bagian 2)

Hai, sudah menunggu postingan selanjutnya mengenai tempat wisata di Palembang ya? Maaf ya, sempat tertunda agak lama karena memang ada beberapa tulisan lain yang harus diselesaikan lebih dahulu. Buat kalian yang belum baca bagian pertama dari tulisan ini, kalian bisa mampir KE SINI ya. Untuk menuntaskan tulisan saya agar tidak ada utang di antara kita, berikut ini lanjutan tempat wisata di Palembang yang wajib kalian kunjungi :

Monpera

Kalau sebelumnya ada Jembatan Ampera, Monpera ini ‘masih saudara’ dari Ampera, letaknya pun tidak jauh tidak dari Jembatan Ampera. Monumen Perjuangan Rakyat atau Monpera ini terletak persis di belakang Museum Sultan Mahmud Baddarudin 2. Jadi bisa dibilang memang banyak destinasi wisata di sekitar Jembatan Ampera dengan jembatan berwarna merah tersebut sebagai pusatnya. Tepat di seberang Monpera, terdapat masjid kebanggaan masyarakat Palembang yaitu Masjid Agung.

Sebelum masuk ke bagian sejarahnya, mengapa bangunan ini diberi nama Monpera, saya terlebih dahulu ingin memuji desainnya. Bangunan ini kalau dilihat bentuknya seperti Bunga Melati berwarna putih dengan lima kelopak yang melambangkan kesucian dan kemurnian. 5 kelopak atau 5 sisinya ini dibangun dengan penuh nilai filosofis. 5 sisi itu melambangkan 5 daerah perjuangan rakyat Sumatera melawan Belanda pasca kemerdekaan, yaitu Sumsel, Lampung, Jambi, Bengkulu dan Kepulauan BaBel. Selain itu, 5 sisi ini juga dibuat guna mengingat 5 hari 5 malam perjuangan parah pahlawan untuk mengusir Belanda.



Bangunan ini dibuat agar para masyarakat, khususnya pemuda, bisa mengenang jasa para pahlawan yang sudah berjuang untuk kemerdekaan dulu. Jadi setiap kali melihat bangunan ini, para pemuda diharapkan juga bisa berjuang, bukan dengan angkat senjata lagi, tetapi berjuang melawan kemalasan yang sering mendominasi pemuda.

Di dalam bangunan dengan 8 lantai, tinggi 17 meter dan diresmikan tahun 1988 ini terdapat berbagai macam koleksi benda bersejarah seperti foto pada masa perjuangan, buku-buku sejarah, patung, dan masih banyak lagi. Di depan Monpera, tepat di depan patung Burung Garuda yang cukup besar, terdapat halaman luas yang biasa digunakan warga berkumpul untuk menghabiskan senja.

Tiket Masuk: Rp 5.000/orang

Inilah Monpera. Kalian bisa lihat Jembatan Ampera di belakangnnya, nggak?

Tampak atas dari Monpera

Area Taman yang cukup luas di depan monumen

Penampakan lengkap dari area Monpera

Masjid Agung Palembang

Beralih dari Monpera, cukup berjalan kaki ke arah depan monumen, kalian akan tiba di tempat ibadah sekaligus tempat wisata di Palembang berikutnya, yaitu Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo. Ya, nama Masjid Agung Palembang ini sudah berubah menjadi seperti yang saya tuliskan sebelumnya guna menghormati sang pendiri masjid yaitu Sultan Mahmud Badaruddin 1. Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo alias Masjid Agung ini adalah Masjid paling besar yang ada di Palembang.

Masjid yang sudah berusia 300-an tahun ini memiliki sejarah yang panjang sekali sebelum memiliki tampak bangunan yang megah seperti sekarang. Akulturasi budaya Cina, Eropa dan Indonesia pun begitu nampak dari tampilan masjid ini. Di bagian belakang, sekaligus bagian masjid yang pertama kali dibangun, lekat sekali budaya Cina-nya. Hal itu terlihat dari atap masjid yang menyerupai klenteng. Di bagian depan, bagian masjid yang dibangun beberapa tahun setelahnya, konstruksi Eropa nan kokoh sangat terlihat. Atap masjid bagian depan ini pun tidak berbentuk kubah lyakanya masjid pada umumnya.

Dan bagian yang Indonesia banget itu terlihat dari menara masjidnya dengan bagian puncak yang menyerupai tumpeng. Bagian dalam masjid pun terbilang mewah karena lantainya terbuat dari lantai marmer. Beberapa kaca patri pun digunakan untuk mempercantik bagian-bagian masjid. Saat siang hari, cahaya matahari yang masuk menembus kaca patri ini akan memunculkan warna-warni yang cantik sekali.

Tiket Masuk: Gratis

Masjid Agung Palembang dengan atapnya yang tidak berbentuk kubah

Lokasi Masjid Agung yang berada di tengah kota

Coba bagian atasnya diwarnai juga, pasti bagus banget

Museum Balaputeradewa

Berpindah ke destinasi selanjutnya, ada Museum Balaputeradewa. Lokasi tepatnya berada di Sukaramai, Jalan Sriijaya I KM.5,5 No.288, Srijaya, Alang Alang Lebar, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Buat yang belum tahu Balaputradewa, ia adalah salah satu raja dari Kerajaan Sriwijaya. Kehebatannya kala memimpin Kerajaan Sriwijaya lah yang membuat namanya diabadikan sebagai nama museum ini.

Saat pertama kali tiba di bagian depan museumnya, saya seperti berada di depan istana. 4 pilar besar dengan tembok di belakangnya yang penuh dengan ornamen berwarna emas menjadi penyambut kami. Tepat di seberang 4 pilar yang saya ceritakan tadi, terdapat 2 patung Dwarapala yang menjaga tempat ini.

Bagian depan museum

Bagian pertama yang akan kalian lihat di bagian dalam museum

Miniatur Goa Putri

Arca Dewi

Di museum ini terdapat banyak sekali koleksi dan kumpulan cerita seperti koleksi fosil, cerita tentang kehidupan jaman prasejarah di Sumatera, senjata-senjata jaman dahulu, miniatur gua putri dan masih banyak lagi. Namun dari banyaknya koleksi di Museum Balaputeradewa, saya sangat suka pada 2 koleksi, yaitu koleksi arca di bagian belakang dan juga Rumah Limas.


Arca terbesar dan juga yang terberat di museum ini adalah Arca Batu  Gajah yang terbuat dari batuan andesit dengan berat lebih dari 2 ton. Dalam Arca ini terlukis jelas seorang prajurit yang sedang mengendarai gajah lengkap dengan atribut dan senjatanya.

Tidak jauh dari lokasi beberapa arca, terdapat Rumah Limas yang merupakan rumah tradisional Sumatera Selatan. Pernah lihat pecahan uang Rp 10.000 cetakan lama dengan gambar Rumah Limas? Dari sinilah gambar itu diambil. Yang membuat Rumah Limas ini spesial buat saya adalah rumah ini sudah dibangun sejak tahun 1830. Sudah lama banget, kan?

Tiket Masuk: Rp 5.000/orang

Arca Batu Gajah

Lihat prajuritnya, nggak?

Rumah Limas

Ada di gambar uang sepuluh ribu ini lho

Agar lebih jelas lagi penampakan Rumah Limasnya

Masjid Cheng Ho

Selain Masjid Agung Palembang, tempat ibadah dan tempat wisata di Palembang dalam bentuk masjid selanjutnya berada di daerah selatan kota, lebih tepatnya di Perumahan Amin Mulia, Jakabaring. Saat masuk ke komplek tersebut, sebuah halaman luas akan kalian temukan dengan bangunan masjid yang cukup besar dan warnanya yang sangat mencolok bernama lengkap Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho.

Masjid yang dibangun di atas tanah seluas 4990 M² ini diprakarsai oleh keluarga PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Seperti yang mungkin sudah kalian tahu, penduduk Palembang ini memang terdiri dari berbagai ras, dan salah satu yang paling banyak adalah dari etnis Tionghoa.

Pemilihan nama Cheng Ho sendiri dikarenakan laksamana yang berasal dari Tiongkok ini dianggap pantas bila dilihat dari syiarnya yang telah ia lakukan di Indonesia. Masjid yang diarsiteki oleh Ir. M. Husni Thamrin ini pertama kali digunakan pada tahun 2008 dengan khotib KGS KH. M. Zen Syukry bin KGS K.H. Hasan Syukur dan Imam Prof. Dr. H. Said Agil Al-Munawar, M.Ag.

Salah satu gerbang di Masjid Cheng Ho Palembang


Ini penampakan masjidnya

Gerbang lainnya

Yang paling saya suka dari masjid ini adalah arsitektur dan perpaduan warnanya. Warna putih, hijau, pink dan merah berpadu dengan sangat baik dan memunculkan perasaan gembira saat melihatnya. Nuansa budaya Cina juga sudah mulai terlihat dari 2 gerbangnya.

Uniknya lagi, masjid ini mempunyai 2 menara yang sama tinggi di bagian kir dan kanannya. Menara dengan 5 lantai yang melambangkan jumlah sholat yang wajib dilakukan dalam sehari ini memiliki nama Habluminallah dan Hambluminannas.

Tiket Masuk: Gratis

Salah satu pintu di Masjid Cheng Ho Palembang

Nuansa dalam masjid

Liat Chandelier-nya, nggak?

Jakabaring Sport City

Masih cukup dekat dari Masjid Muhammad Cheng Ho, tempat wisata di Palembang yang bisa kalian sambangi berikutnya adalah sebuah komplek olahraga bernama Jakabaring Sport City. Meskipun kalian belum pernah ke sini, harusnya kalian sudah cukup familiar dengan nama ini karena sering terdengar di televisi.

Komplek olahraga ini merupakan salah satu komplek olahraga kebanggan Indonesia. Komplek olahraga ini sudah beberapa kali menjadi tempat perhelatan event olahraga Internasional seperti SEA Games 2011 dan yang paling anyar adalah ASIAN Games 2018.

Asal mula pembangunan komplek olahraga ini kalau tidak salah pada tahun 2004. Waktu itu Sumatera Selatan terpilih sebagai tuan ruamh PON XVI. Berangkat dari sanalah komplek olahraga nan megah ini terus berkembang dan menjadi sangat lengkap seperti sekarang.

Area masuknya dan beginilah pemandangan kompleknya. Ada stasiun LRT-nya uga lho

Bagaimana? Luas, kan? Bisa lihat danau buatannya, nggak?

Di dalam komplek ini terdapat berbagai macam arena seperti Stadion Gelora Sriwijaya yang menjadi markas Sriwijaya FC, ada juga arena panahan, voli pantai, dan bahkan ada danau buatan yang pada ASIAN Games digunakan sebagai arena balap dayung. Terdapat pula mess bagi para atlet yang akan bertanding di sini.

Di komplek yang sangat besar ini, tiap sorenya, biasanya masyarakat Palembang akan ngabuburit. Saran saya, bila ingin berkunjung ke sini, gunakanlah kendaraan pribadi seperti sepeda motor atau mobil. Sebab bila kalian ingin mengitari komplek ini dengan berjalan kaki, dijamin lutut kalian pasti lemas.

Tiket Masuk: Rp 5.000/kendaraan

Ini dia stadion Jakabaring alias Gelora Sriwijaya

Di area taman yang ada air mancurnya inilah biasa warga berkumpul

Alquran Al Akbar

Sekitar 15 KM dari Jakabaring Sport City ke arah Gandus, kalian bisa menjumpai sebuah objek wisata unik yaitu Museum Alquran Raksasa atau biasa dikenal juga dengan nama Museum Alquran Al Akbar. Dari namanya, kalian pasti sudah bisa tahu kalau di sini terdapat Al Quran dalam ukuran yang sangat besar. Namun bukan dibentuk seperti buku, melainkan tiap lembarannya ditampilkan dengan cara digantung dan bisa memutar serta penataannya sangat cantik dan rapi.

Ide awal menampilkan lembaran Alquran yang unik ini didapat oleh Bapak Syofwatillah Mohzaib, penggagas Al Quran Al Akbar sekaligus pemberi tanah wakaf untuk dibangunnya tempat ini, ketika ia sedang menemani jamaah haji di Makkah Al-Muqarom. Saat melakukan shalat sunnah 2 rakaat, ada sebuah suara yang memberi gambaran bagaimana lembaran Alquran ini harus ditampilkan. Dengan penuh kehati-hatian, ia pun mengikuti suara tersebut dan jadilah Museum Alquran raksasa seperti sekarang.

Lembaran Alquran yang ditampilkan di sini terbuat dari kayu trembesi, dan tiap ayat yang menempel di atas kayu tersebut dipahat, dibentuk dan diberi warna emas.  Namun Lembaran Alquran dengan total 30 Juz ini belum dipasang semuanya. Saat tulisan ini ditayangkan, bangunan tempat diletakkannya lembaran Alquran ini sedang dalam proses renovasi guna menciptakan tampilan ruang penyajian yang lebih sempurna, nyaman dan rapi.

Saya cukup kagum dengan tempat ini dan semoga saja pengunjung yang datang ke tempat ini, apapun agamanya, bisa menjaga keutuhan serta keindahan karya yang satu ini.

Tiket Masuk: Rp 10.000/orang

Beginilah cara tiap lembar Alquran ditampilkan

Di bawah pancaran ayat-ayat Alquran

Berjalan ke bagian dalamnya, seperti inilah penampakannya

Bagus, kan?

Kayu Trembesi dan Tulisan Berwarna Emas

*****

Akhirnya, tulisan mengenai tempat wisata di Palembang yang bisa kalian kunjungi lengkap sudah. Semoga 2 tulisan terpisah mengenai daftar tempat wisata di Palembang ini bisa menjadi panduan untuk kalian yang ingin berjalan-jalan di sana.

Sebenarnya masih ada satu tempat wisata lagi yang bisa kalian kunjungi yaitu Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, hanya saja waktu berkunjung ke Palembang, saya tidak sempat untuk mampir ke tempat tersebut. Mungkin nanti kalian yang bisa mampir ke sana dan menceritakannya pada saya, ya?

Akhir kata, selamat menikmati kekayaan wisata di Palembang ya 🙂

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Darius Go Reinnamah

Seorang pria yang sedang terus belajar menulis. Alasan menulisnya simple saja, karena "tertampar" oleh kalimat dari Pramoedya yang berbunyi: Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.